[Sinopsis] Boku no Ita Jikan Episode 2 Part 2

------------------------------------------------------------------
Sinopsis Boku no Ita Jikan Episode 2 part 2
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Takuto merasa ada yang aneh dengan tangan kirinya. Ia memutuskan untuk mencari tahu hal itu.
Takuto membuka layar laptopnya.Ia melihat tangan kirinya yang tidak berdaya lagi dan mulai search tentang tangan yang tidak punya kekuatan.
Banyak sekali hasil pencarian, namun matanya tertuju pada sebuah halaman yang memuat 'ALS'. Takuto menghentikan pencariannya.
Ciri ALS,kaki sering kram. Takuto teringat apa yang terjadi saat latihan futsal. Ia mengklik halaman tersebut.

Hanya syaraf motorik yang terpengaruh.
Tidak ada pengobatan yang efektif.
Banyak pasien dengan penyakit ini mengalami kelumpuhan otot pernafasan yang berujung pada kematian 3-5 tahun sejak timbulnya gejala.
kata 'Kematian' membuat Takuto tak berkedip. Ia melihat tulisan itu dengan mata terbelalak. Ketakutan tanpak diwajahnya.
Ia kembali melihat ke bagian atas halaman, gejala awal ALS.

Wajahnya berkerut saat membacanya.
Kesulitan dalam mengangkat lengan.
Takuto menelan ludah. Perlahan ia mulai mengangkat lengannya, lagi lagi dan lebih tinggi. Ia bisa.
Ia lalu tertawa dan merasa lega, karena tidak mungkin hal yang ia alami beberapa menit yang lalu adalah gejala ALS.
Ia menutup laptopnya.

Megumi baru pulang kerja menggiring sepedanya di depan cafe saat ia melihat Shigeyuki di depan cafe. Shigeyuki bertanya apakah Megu akan pulang dan Megu membenarkan. Megu permisi sambil mengatakan Shigeyuki bisa menikmati makanannya. Tapi Shigeyuki dengan wajahnya yang memuakkan mengatakan kalau ia tidak mau makan karena Megu tak ada disana.

Shige dan Megu pulang bersama. Mereka ngobrol masalah pekerjaan.
Aku ga mau panjang-panjangin ah, karena aku ga suka shigeyuki, kelihatan sekali wajah serakahnya.
Intinya dia ngobrol dan bilang ke Megu dia punya temen yang bisa nyariin pekerjaan buat Megu. Itu triknya supaya dapat nomer ponsel Megu.

Di rumah, Megu sedang mengisi CV nya. Tapi ia gagal berkali-kali karena ini dan itu, sehingga kumpulan kertas CV yang ia remas.
Kemudian ia mendapat telpon dari Hina yang mengajaknya ikut acara perjodohan besok, menemaninya saja. Megu agak malas, tapi Hina mengatakan ia bahkan sudah menemani Megu ke rumah Takutto.
Akhirnya Megu mengaku kalau mereka bertengkar. Hina terkejut.

Megu menunggu Hina untuk acara perjodohan. Hina datang dan langsung mengajak Megu pergi. Megu heran, kenapa cepat sekali?
Hina mengatakan sebelum itu mereka harus ke suatu tempat dulu. Dan benar saja, mereka pergi ke perusahaan tempat Takuto bekerja. Megu tidak bisa menolak Hina jadi harus tetap ikut.

Mereka tiba disana dan Hina mulai mencari-cari dimana Takuto. Megu beruntung melihat Takuto duluan.
Begitu melihat dimana Takuto, ia menarik Hina untuk menghindar. Hina kesal dan mengatakan semakin cepat Megu dan Takuto baikan, maka akan semakin baik. Hina menyuruh Megu menyampaikan langsung pada Takuto.
Megu tidak bisa bicara keras karena takut ketahuan, ia bicara sambil melihat Takuto ke belakang dan begitu sadar, Hina sudah kabur. HAHAAHHAHAH.

Megu akhirnya ditinggal sendirian disana. ia hanya bisa menghela nafas. Lalu ia mendengar sesuatu di belakangnya dan menoleh, Takuto dimarahi lagi oleh atasannya.
Takuto tampak di tegur lagi oleh atasannya, mengatakan sesuatu tentang lulusan universitas yang harus menggunakan otaknya, ia juga mengatakan Takuto merepotkan dan membuat lebih banyak pekerjaan.
Atasannya mengatakan Takuto tak berguna.
Megu jadi teringat perkataannya malam kemarin. Ia sadar kalau itu menyinggung Takuto. Megu menatap Takuto dan merasa tak enak hati.

Megu memutuskan untuk pergi. Saat ia melangkah, ia menabrak sesuatu. Takuto menyadari dan melihat Megu ada disana.
Takuto tersenyum melihatnya dan akan pergi ke dekat Megu, tapi pelanggan datang dan Takuto harus melayaninya.
Megu melihat hal itu dan berjalan pergi. Begitu Takuto menoleh, Megu sudah tak ada.

Megu kelihatan sedang menyesali apa yang ia lakukan. Ia ikut perjodohan itu dan minum anggur bahkan sampai mabuk. ia tidak peduli dengan percakapan Hina dan lain, ia kalut dengan pikirannya sendiri.

Takuto baru pulang kerja. Ia melihat ponselnya yang bergetar, Megu menelpon. Takuto mengangkatnya. Disana ada suara Megu,tapi tidak bicara padanya, melainkan pada Hina. Entah salah pencet nomer, atau Hina yang sengaja.
Megu yang mabuk curhat sama Hina, Aku menyakiti perasaannya. Aku menyakiti perasaan Takuto. Apa yang harus aku lakukan?

Megu mabuk dan pusing. Ia menyandar dibahu seseorang. Ia sudah agak sadar dan mengangkat kepalanya. Ia langsung shock melihat wajah yang ia kenali disana.
Takuto sudah ada disampingnya, Takuto tersenyum melihat Megu, kau sudah bangun?
Megu heran kenapa Takuto ada disana. Takuto mengatakan Megu yang menghubunginya. MEgu masih belum sadar benar dan minta maaf. IA segera mengecek ponselnya, dan menyadarinya.
Takuto tersenyum, Aku malu-malu menunjukkan keadaanku hari ini.

Megu menunduk dan mengatakan kalau sebelumnya ia merasa sebagai satu-satunya yang mengalami masa sulit. Ia bahkan banyak mengatakan hal buruk pada Takuto. Megu sampai membungkuk minta maaf.
Ia menyesal karena Takuto sampai datang menjemputnya. Ia masih tidak ingat, apa benar ia yang menyuruh Takuto datang. Takuto mengiyakan. Megu kelihatan kacau, ia menyesal dan merasa tidak enak hati. Setelah minta maaf, ia mengatakan kalau ia baik-baik saja dan mengambil tasnya untuk pergi.
Sementara itu Takuto tetap diam, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit.

Tapi baru beberapa langkah, Takuto bicara, Waktu aku kecil, aku ingin menjadi dokter adalah karena orangtuaku senang waktu ku katakan itu. Waktu aku mendapat nilai yang tinggi saat ujian, ibuku akan mengacak-acak rambutku dan menepuk kepalaku.
Flashback memperlihatkan bagaimana Takuto kecil disayang oleh ibunya. Dan ibunya menyuruhnya menjadi dokter seperti ayahnya dan menolong orang.

Takuto : Aku ingin melihat ibuku tersenyum. Aku yakin dulu aku ingin menjadi sesuatu yang lain.
Takuto selalu seperti itu, ia mencoba serius namun akhirnya ia tertawa lagi, seolah kataannya adalah candaan. Ia mengatakan kalau ia tak ingat lagi sambil tertawa.
Tapi kemudian Takuto berwajah sedih lagi. Ia memendam banyak kesedihan.
Megu melihatnya dan merasa kasihan juga. Tapi ia tak tahu harus bicara apa.
Kemudian Megu menyadari bus yang akan ia naiki sudah datang.

Takuto menatap Megu penuh arti dan bertanya, kau sudah mau pergi?
Takuto menatap Megu penuh harap. Megu menatap Takuto dan bus yang mendekat dengan banyak pikiran. Ia tak tahu harus bagaimana.

Takuto akhirnya mengerti dan berdiri. Ia mengambil tas-nya dan mulai berjalan.
Bus yang berhenti di depan mereka, berangkat. Megu tetap disana.

 
Takuto berjalan mendekati Megu. Dibawah lampu haltes bus, Takuto mencium Megumi.
Awww! Romantis.

Di rumah Takuto, Rikuto melihat bola lambu mereka mati. Ia masuk ke kamar Takuto untuk memberitahukannya. Tapi begitu masuk ia melihat hal yang ga boleh dilihat.
Takuto dan Megumi ternyata tidur bersama. OMG.
Megumi bangun duluan. Ia membuka mata dan melihat Rikuto dipintu. Ia kaget dan berteriak, menyelimuti wajahnya. Takuto sudah sedikit sadar, Rikuto dengan polos bertanya, Kau ada beli lampu baru untuk dapur?
Takuto bahkan belum mampu membuka matanya, Belum. Nanti aku beli.
Ia memberi isyarat tangan agar Rikuto pergi.

Tapi Rikuto malah mendekat. Ia penasaran. IA bertanya pada Megu, Kenapa? Bukankah saat itu kau menangis?
Megu tak tahu harus jawab apa. Takuto kesal dan akhirnya setengah duduk bertopang tangan di kasur, Bisakah kau keluar sekarang?
Rikuto akhirnya keluar dari kamar itu. Takuto dan Megu tertawa. Keduanya kembali bercanda di bawah selimut.

Megu dan Takuto menyiapkan sarapan sambil ngobrol. Takuto menanyakan bagaimana Megu menghapal semua menu direstoran. Menu mengatakan ia menghapalnya sambil makan. Takuto merasa ia harus melakukan hal yang sama, tidur di tempat tidur dan menghapalnya, jumlah kumparan springbed dan tinggi kepadatan busanya.
Megu mengatakan ia juga mulai menggebu-gebu kalau ke toko furniture, apalagi melihatnya di majalah.
Takuto memikirkan tentang majalah dan mengajak Megu makan.

Takuto datang pagi ke perusahaan dan mulai bersih-bersih. Ia mengelap debu yang ada di furniture dan menghapal jenis-jenis kasur dengan berbaring diatasnya.
Pagi itu ia begitu bersemangat. Dan saat pelanggan datang, Takuto melayaninya lebih baik dari biasanya. Ia sudah mulai hapal yang mana kasur yang diinginkan pelanggan. Ia bahkan hapal jenis-jenis ventilasi udaranya.
Pelanggan kelihatannya puas dengan Takuto. Takuto tersenyum.




Takuto merasakan bagaimana menyenangkannya pekerjaannya dan tidak menganggapnya sebagai beban yang berat. Pulang dari tempat kerja ia singgah di toko buku dan membeli majalah design furniture jepang untuk ia pelajari.


Di rumah Takuto mengubah tampilan furniture apartemennya. Ia begitu bersemangat sampai saat mengangkat kursi ia merasa lagi kalau tangan kirinya tidak bertenaga, tapi ia segera melupakannya sejenak saat adiknya datang dan bertanya Takuto sedang apa.
Takuto mengatakan kalau ia sedang mengubah posisi furniture rumah. Rikuto mengatakan Takuto beruntung karena tak punya beban, sementara ia harus begadang semalaman untuk belajar terapi molekuler.
Takuto bertanya pada adiknya, Rikuto, kenapa kau ingin menjadi dokter?
Rikuto menjawab, Sejak kecil, aku berfikir sudah sewajarnya aku menjadi dokter. Aku ingin menolong orang.
Takuto sedikit tersenyum mendengarnya dan Rikuto bertanya kenapa.
Takuto mengatakan bukan apa-apa dan menyuruh Rikuto untuk berusaha.

Rikuto mengomentari Takuto yang membeli majalah furnitur. Takuto mengatakan kalau tugasnya membantu klien hidup di tempat yang nyaman.
Karena itu ia mencoba dari rumahnya sendiri. Rikuto bertanya, pekerjaanmu menolong orang juga, ya? Semacam itulah.
Takuto mengomentari Rikuto yang sengaja mengatakan 'semacam itulah'.
Takuto menasehati kalau Rikuto boleh mengatakan itu padanya, tapi jangan pada orang lain karena Rikuto akan dapat masalah.
Tapi Rikuto malah melawan.

Ia mengatakan Takuto merasa kalah. Karena dirinya (Rikuto) pintar, Takuto sengaja mencari gara-gara dengannya agar menyelamatkan muka Takuto sebagai seorang kakak.
Takuto mengatakan bukan itu maksudnya. Tapi Rikuto terus melawan mengatakan kalau yang punya masalah adalah TAkuto, karenanya sebaiknya Takuto memperhatikan dirinya sendiri dari pada mengurusi orang lain.
Rikuto dengan sombongnya masuk ke kamarnya. Ish!!! KAlau adekku kayak dia udah aku bejek habis tuh!
Takuto tidak melawan, Ia hanya menatap Rikuto yang pergi. Ia menahan amarah nya dan melanjutkan pekerjaannya. Ia mengangkat kursi dan lagi kekuatan tangan kirinya hilang. Tapi ia terlalu marah untuk menyadari itu.

Sementara itu Megu menikmati hari liburnya dengan membantu ibunya menjadi sukarelawan.
Takuto ada di tempat kerja. Shigeyuki datang untuk mampir mengajaknya main futsal. Tapi Takuto tak bisa karena ia tak bisa libur. Shige mengatakan juga kalau takuto dapat libur bahkan Takuto tak mau kumpul dengan mereka. Takuto mengatakan kalau pacarnya punya jadwal yang fleksibel.
Shige heran karena Takuto punya pacar. Dan saat Takuto menyebutkan kalau Megu orangnya, wajah Takuto langsung berubah, sedikit menyeramkan karena senyumannya hilang.
Tapi kemudian dia mencoba bersikap biasa dan menggoda Takuto dengan mengatakan Takuto bahagia. Takuto hanya bisa senyum-senyum tanpa tahu apa niat Shige.

Shige akan pergi sambil mengecek HP nya, dan ia melihat nomor ponsel Megu. Ia menatap ke arah Takuto. Sepertinya ia akan melakukan sesuatu. OMG!

Megu menikmati harinya menjadi sukarelawan di panti jompo. Ia melakukannya dengan senang. Saat pulang bersama ibunya, Megu mulai menyampaikan pikirannya. Sepertinya ia akan terus pergi, melakukan kerja sukarela untuk menolong orang-orang.
Ibu tersenyum melihat puterinya yang mulai tertarik dengan hal itu. Megu mengatakan kalau ia ingin tahu lebih banyak tentang apa yang mereka lakukan. Ibu sangat senang dengan hal itu.

Takuto sedang bekerja dan senior yang sering memarahinya mendekatinya dengan memanggil marga Takuto dengan suara agak keras. TAkuto terkejut. Seniornya mendekatinya dan mengatakan ada klien yang menanyakan Sawada.
Keluarga yang dilayani Takuto itu ternyata mencarinya. Takuto senang melihatnya. Mereka mengatakan kalau mereka sudah melihat ranjang ke berbagai tempat, tapi mereka memutuskan ingin membeli ranjang yang direkomendasikan Takuto.
Takuto membelalakkan matanya tak percaya. Ia terkejut dan otomatis ia membungkuk berterima kasih. Mereka adalah pelanggan pertama Takuto. Dan keluarga itu juga ingin melihat perangkat meja makan.
Takuto dengan senyuman diwajahnya mengajak mereka melihat-lihat.
*ikutan terharu, bang Miura :')

di Rumah, Takuto sedang mandi. Ia mandi sambil senyam senyum. Ia merasa hari-hari semakin baik dan menyenangkan baginya. Karena keberuntungan ada dipihaknya.
Saat Takuto mencuci kepalanya, tiba-tiba tangan kirinya mulai berulah. Makin lama tangannya makin turun perlahan. Takuto mencoba untuk menaikkannya lagi perlahan-lahan, tapi tak bisa. Tangannya terus turun seolah tak bertenaga. Ia menopangnya dengan tangan kanannya.

Takuto mencoba menaikkan tangan kirinya dengan bantuan tangan kanannya. Begitu sampai di kepala, ia melepaskan pegangan tangan kanannya. Tapi tangan kirinya tak mau bertahan dikepala. Perlahan turun dan turun. Ototnya tak berfungsi menahannya.
Takuto shock. Ia membelalakkan matanya mengingat ciri-ciri penyakit ALS yang dibacanya di komputer.

Dan Tangan kirinya terjatuh kemas.

-END-

Komentar :
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAKKKH!!!!
Begitu kehidupan Takuto mulai berwarna dengan hadirnya Megumi dan setidaknya ia berusaha lebih baik, akhirnya sesuatu yang lebih besar akan merenggut kehidupannya. OMG!!!!

Takuto otang yang sabar. Ia memendam semuanya sendirian selama ini. Seperti yang ia katakan, ia hidup dengan karakter yang ia buat. Menjadi ini dan itu. Akhirnya ia melepaskan topengnya setelah mengalami banyak hal sulit. Ada yang menerima dirinya yang sebenarnya dan ada yang menolaknya. Yang menerimanya tentu si pewawancara yang mempekerjakannya, juga Megumi yang menyukainya. Sementara yang mengabaikannya secara tak langsung adalah ayah dan ibunya. Serta adiknya.
Menyakitkan melihat bagaimana ibu berubah karena tahu kita yang sebenarnya. Tidak sesuai harapan mereka dan mengubah rasa kasih sayangnya. Meski ibu dan ayahnya tak membenci Takuto, tapi dari tindakannya, Takuto merasa begitu. Meski begitu didepan orang tuanya ia masih memakai topeng itu. Karena selalu terlihat ceria. Tapi Takuto orang yang sabar dan ia berusaha menjadi dewasa. Makanya ia menahan amarahnya pada adiknya, atau hanya tersenyum meski ia tersakiti. Tapi bagaimana pun itu tidak baik.

aku membenci adik Takuto dengan sikapnya yang seperti itu. Seolah dia sangat sombong. Hanya karena ia berhasil membuat orang tuanya bangga. Tapi kita belum tahu, apakah benar itu yang ia inginkan? Apakah ia bahagia? Kita lihat saja nanti. Tapi tolong jangan berikan spoiler episode selanjutnya ya.
Dan bicara mengenai yang dibenci, si muka dua Shigeyuki juga memuakkan. Aku mengira dia orang baik. Tapi dibelakang Takuto wajahnya beneran berubah. aku rasa dia tipe orang yang jika terobsesi sesuatu maka ia harus mendapatkannya. Aku kahwatir dengan Megumi. Dan aku harap TAkuto segera sadar dengan si muka dua itu.

Dan bicara mengenai Megumi dan Takuto, keduanya manis sekali. HEhehheheehhe.
Di Kimi Ni Todoke, ga ada kissing scene sama sekali, dan akhirnya disini mereka melakukannya meski dengan karakter berbeda. Tapi chemistry mereka dapet banged ya?
Aku suka bagaimana hari-hari Takuto akhirnya menajdi lebih ceria sejak pacaran dengan Megumi. Ia bahkan mulai menyukai pekerjaannya dan lebih penting ia mulai menikmatinya. DAn saat ia mendapatkan pelanggan pertama, itu benar-benar mengharukan. Ia membuktikan dirinya bisa.

Tapi lagi-lagi masalah akan datang silih berganti. Kali ini lebih serius. Ia mulai sadar kalau ia menderita penyakit ALS. Penyakit yang mengganggu fungsi otot. Ini mengingatkanku akan drama One Litre of Tears. Gejala hampir mirip tapi penyebab berbeda. Kalau ALS berhubungan dengan saraf otot, kalau penyakit Ikeuchi Aya itu berhubungan dengan otak belakang.
Tapi keduanya sama-sama membuat pasien akan lumpuh pada akhirnya. Aku sudah menghabiskan 1 liter air mata dalam drama itu. Apakah aku bisa menghabiskan 1 liter air mata untuk drama ini?
Kita tunggu saja! 9 episode lagii. Hwaiting!!!

 
Created by Hazuki Airin @ Clover Blossoms 



1 comments:

  1. akhirnya ada jg yang buat sinopsis dorama ini. aku uda penasaran bgt sama ceritax, coz aku suka pasangan ini manis bgt. thank you . ttp semangat ya sampai akhir

    ReplyDelete

 

Random Post

Clover Blossoms Fanpage

In My Radar

Watching :
- We Married as A Job
- Jimi ni Sugoi!
- Weightlifting Fairy
- Goblin
- The Legend of The Blue Sea
- Father I'll Take Care of You
- Beppin-san
- Gochisousan

Waiting Drama:
- Miss in Kiss

Waiting Movies:
- One Week Friends
- Your Lie in April
- Aozora Yell
- Itakiss Movie

Favorite Song This Time :
- Red Cheek Puberty - Galaxy
- Ben - Foggy Road
- Twice - Next Page
- Utada Hikaru - Hanataba wo Kimini
- LYn - Love Story