[Sinopsis] Boku no Ita Jikan Episode 4 Part 1

Boku no Ita Jikan Episode 4 Part 1

Megu datang ke klub Futsal. Takuto dkk sedang main futsal. Untungnya Takuto tidak melakukan kesalahan hari itu. Ia bermain dengan baik dan mencetak gol. Megu tersenyum melihatnya.
Begitu permainan berakhir, Takuto melihat Megu, Megu melambai senang. Takuto tersenyum dan berjalan mendekati MEgu.
Shige melihat mereka dengan pandangan tak suka.

Megu membawakan bekal untuk kekasihnya. Sayangnya Shige ga tau diri ikutan nangkring bareng mereka ditaman. Megu memberikan hadiah pada Shige-senpai. Nggak tau itu apa. Shige mulai menanyakan apakah Megu tidak memakai riasan setelah mandi?
Megu malu dan minta hal itu jangan dibahas. Takuto bingung. Shige menjelaskan kalau sebelumnya Megu bertanya padanya tentang hal itu. Megu mengatakan ia terlihat sama saja dengan riasan maupun tidak. Mereka tertawa. Megu kemudian ingin mengatakan sesuatu pada Shige. Shige becanda menebak, apa kau ingin mengatakan kalau kalian akan menikah? Megu tertawa dan mengatakan tidak mungkin. Ia lalu menjelaskan kau dirinya akan mengejar karir di bidang keperawatan. Ia mengatakan padahal Shige sudah membantunya mencari pekerjaan, tapi itulah yang ingin ia lakukan.

Takuto kemudian ingin minum. Ia mencoba membuka tutup botol air mineral. Ia kesulitan lagi. Megu melihatnya dan tersenyum, Biar aku bantu.
Tapi Takuto menolak, ia ingin melakukannya sendiri. Takuto mencoba menahan botol dengan pahanya dan membuka tutupnya dengan susah payah.
Shige berkomentar Takuto pasti kesulitan.

Di halaman apartemen, Takuto sedang menutupi pegangan sepeda dengan lakban. Untuk apa ya?
Rikuto yang lewat melihatnya dan bertanya apa yang Takuto lakukan.  Takuto mencoba menjelaskan dengan hati-hati kalau ia sudah ke dokter dan mengatakan ini hanya untuk sementara. Riku bertanya, dokter apa?
Takuto menjawab, dokter ahli tulang. Rikuto memberitahu Takuto untuk ke ahli neurologi juga. IA mengatakan ia sudah melakukannya.
Riku mengatakan itu mengejutkan untuk orang seperti Takuto. Takuto terdiam. Riku menceloteh tentang kakaknya yang pasti searching di internet tentang hal itu, banyak daftar mengenai kelainan syaraf, ALS salah satunya. Ia bertanya, Kau menjadi takut bukan?
Takuto duduk di sofa, terdiam, dengan raut wajah marah.
Riku mengatakan tak apa jika Takuto merasa ketakutan, tapi beberapa orang mendiagnosa diri mereka sendiri dan baru menemui dokter, ada banyak orang seperti itu.

Takuto menatap Rikuto, Riku, kau serius ingin menjadi dokter?
Riku heran, Hah?
Takuto berdiri dan berkata, bagaimana bisa kau mengolok-olok orang yang pergi menemui dokter dengan menbawa bayangan mereka mengidap penyakit serius? Pasti ada orang yang sungguh mengidap penyakit serius.
Rikuto membela diri, Aku tidak mengolok mereka.
Takuto meninggikan suaranya, Kau melakukannya. Takuto menunjukkan wajah terluka. Tapi Rikuto memang kelihatannya tak menyadari dan malah mengejek lagi, Ah, kau merasa rendah diri lagi?
Takuto mencoba terlihat baik-baik saja, ia bahkan tersenyum dalam ketakutannya dan mengatakan bukan begitu, menyuruh Riku melupakannya.
Takuto kemudian akan pergi ke kamarnya dan mengatakan pada Riku untuk tidak memberitahu ibu.

Takuto dikamarnya. Ponselnya bergetar dan ia mengangkatnya. Itu telpon dari ibunya yang bertanya, Apakah baik-baik saja?
Takuto berfikir ibu menanyakan kabarnya, tapi ibu ternyata malah menanyakan kabar Rikuto. Ia khawatir karena Rikuto meminta dibawakan piano ke Tokyo. Karena jika Riku menghadapi masalah, biasanya ia ingin main piano. Takuto sedikit kesal dan mengatakan pada ibu untuk menelpon Riku dan menanyakannya. Tapi ibu malah mengatakan ia tak sanggup mendengar kesilutan Riku jika Riku yang bicara. Takuto beneran kesal dan menutup telpon ibu. Ibu menghubunginya lagi tapi ia tidak menjawabnya.
Takuto menghempaskan diri ke tempat tidurnya.
Poor Takuto. Ada ga sih ibu kayak gitu! Babo!

Pagi harinya, Takuto berangkat ke kantor dengan sepedanya. Ia menggunakan lakban yang a tempel untuk menahan tangannya. Pengumuman pegawai dengan penjualan terbanyak, Takuto secara mengejutkan ada di posisi ketiga.
Tapi hari-harinya makin sulit, ia bahkan sudah tak bisa mengangkat barang. seniornya Miyashita yang sering mengomel membantunya setelah Takuto minta tolong. Miyashita mengomel lagi tentang dirinya yang membantu Takuto, tapi tak akan dicatat di performa penjualannya. Ia merasa seperti buang-buang waktu.
Takuto dengan wajah tak bersemangat mengatakan jika mau, Miyashita bisa mengambil performa penjualannya, juga gelar sarjananya jika mau. Minya shita terkejut, ia merasa Takuto mengolok-oloknya. Takuto mengatakan kalau ia iri dengan Minyashita. Ia lalu meninggalkan Miyashita yang kebingungan.

Takuto menemui dr. Kazuhi lagi untuk pemeriksaan. Takuto bertanya setelah tangan kirinya, apalagi yang akan kena, tangan kanan, kaki, atau kemampuan bicaranya. Tentu saja dokter tidak bisa mengetahuinya. Ia mengatakan lebih baik untuk tidak memikirkannya.
Takuto heran. Dokter mengatakan itu salah satu cara penanggulangan ALS untuk hidup.
Takuto menatap dokter dan mengatakan ia tak bisa melakukannya. Ia tak bisa menghindar untuk memikirkannya. Dokter mengerti, ia yakin ini sulit bagi Takuto, ia bertanya apakah Takuto sudah memberitahu keluarganya.

Takuto menjawab tidak. Dokter mengatakan untuk mengurangi biaya pengobatan, Takuto harus mengirim aplikasi ke pemerintah, jadi tentu saja perlu memberitahu keluarga. Ia juga berharap Takuto menunjukkan perasaannya pada rekan kerja dan teman-temannya, keluarganya, agar bisa diterima.
Dokter bertanya apakah Takuto memiliki seseorang?
Takuto terlihat sedih, ia berfikir dan mengatakan kalau ia memiliki seseorang, tapi..
Dokter bertanya, kenapa tidak memberitahukan penyakit ini padanya?
Takuto menunduk sedih, ia mengatakan kalau ia tak yakin bisa bersama orang itu selamanya. Dia mungkin akan meninggalkannya jika ia memberitahu.
Dokter mengerti betapa sulitnya memberitahu orang-orang.

Takuto mengatakan pada akhirnya mereka akan tau ketika gejalanya berkembang. Ia tertawa. Kemudian dia terlihat sedih lagi membayangkan kalau orang-orang akan meninggalkannya cepat atau lambat.
Ia menatap dokter dan mengatakan kalau ia tahu, sebentar lagi ia akan memberitahukan hal ini pada orang yang paling ia sayangi.
Dokter tersenyum. Takuto memancarkan keseihan, kesakitan dan ketakutan yang mendalam dari sorot matanya.

The Hours of My Life Episode 4

Rikuto sedang main piano di rumah. Takuto yang baru pulang menegur Rikuto untuk mengecilkan suara piano atau memakai headset saja. Rikuto mengatakan kalau suasana hati yang tepat tak bisa ia dapatkan jika begitu. Takuto mengatakan tetap saja suara piano elektriknya terlalu besar dan mengganggu.
Rikuto mengatakan lagi, perasaan rendah diri lagi? Karena aku bisa main piano?
Takuto mengatakan bukan begitu, suara piano akan mengganggu tetangga. Rikuto kesal, ia sama sekali tidak pernah mendapat keluhan jika dirumah. Takuto mengatakan apartemen mereka adalah mension. Ada ruangan lain disebelah dinding. Rikuto akhirnya menyerah dan menghela nafas. Ia mengenakan headphonenya.

Takuto ada di kamarnya, ia membuka ponselnya dan melihat-lihat foto dirinya dan Magumi. Takuto memikirkan sesuatu.

Megu di kamarnya sedang belajar, ibu masuk membawakan teh. HP Megu bergetar, Takuto menelpon. Ibu ingin menjawabnya tapi Megu tidak memperbolehkan dan menyuruh ibu keluar. Ibu ingin mendengarkan percakapan mereka dan menunggu di pintu, Megu akhirnya terpaksa menutup pintu.
Megu dan Takuto ngobrol di telpon. Tapi Takuto tak bisa mengatakan maksudnya sebenarnya, jadi ia hanya mengajak Megu dan yang lain makan bareng. Itu pun dia mau menutup telponnya. Megu bingung. Tapi akhirnya mereka ngobrol lagi. Megu bertanya, Lain kali apakah aku boleh meninggakan sikat gigiku di rumahmu?
Takuto awalnya hanya diam. Megu mengatakan tak apa jika tak boleh. Tapi akhirnya ia mengatakan tentu saja Megu boleh melakukannya. Megumi senang. Mereka tertawa bersama di telpon. Pasangan yang bahagia T___T

Kemudian mereka membicarakan makanan yang akan mereka makan. MEgu menawarkan membawa sayuran karena mereka dapat banyak sayuran gratis. Megu berkata, saat ibuku merawat ayahku di rumah, para tetangga banyak membantu. Sejak itu mereka selalu memberikan kami sayuran gratis.
Takuto mengerti.

Megu dalam perjalanan bersama Hina. Hina bertanya apakah Megu akan menginap lagi?
Megu mengiyakan. Hina kecewa karena artinya ia akan pulang bersama Mamoru lagi. Megu heran, memangnya kenapa?
Hina mengatakan terakhir kali Mamo bertanya padanya apakah bisa melakukan itu sekali saja.
Megu tampak shock, Ia terkejut dengan suara yang cukup keras. Hina kesal karena suara Megu kencang sekali. Megu bertanya, lalu bagaimana?
Hina mengatakan kalau ia memukul Mamoru kencang sekali. Megu penasaran lagi, lalu bagaimana?
Hina mengatakan ya sejak itu baru sekarang mereka akan bertemu.

Mereka masak Nabe di rumah Takuto. Mamoru benar-benar aneh hari itu, ia sangat sangat sangat banyak bicara, bicara tanpa henti membahas masakan direbus, masakan di panggang, cara memakannya, tentang prasejarah dan bla bla bla.
Hina diam saja. Megu menatap Mamoru sambil senyum, sementara Takuto kebingungan melihat temannya itu.
Takuto curiga, ia bertanya apa terjadi sesuatu?
Mamoru menjawab tidak ada apa-apa setelah menatap Hina. Megu hanya bisa tertawa dan Hina menegurnya. LOL.
Mamoru menyadari dan mencoba menjelaskan kalau tempo hari itu ia tidak serius. Itu hanya becanda saja.

Hina dan Mamoru pulang bersama. Mamoru mengatakan kalau harga dirinya hancur, bagaimana bisa Hina mengatakan hal itu pada Megumi. Ia terus mengeluh tentang hal itu. Mereka sempat adu mulut, bahkan Hina hampir melayangkan pukulan keras lagi karena Mamoru minta ciuman LOL.
Tapi pada akhirnya ia mengajak Hina untuk minum kopi.
Mereka tiba di kedai kopi. Rupanya tempat itu adalah tempat dimana Mamoru ditugaskan. Bahkan pelayan yang bertugas malam itu terkejut kalau Mamo membawa wanita. Salah seorang bertanya apakah Hina pacar Mamo, Mamo mengiyakan saat Hina tak mendengarnya.

Megu dan Mamoru minum kopi juga di rumah. Megu melihat piano milik Riku dan bertanya apakah Takuto juga bermain piano. Takuto mengatakan ia berhenti saat SD dan saat SD nilainya juga bagus. Megu bertanya bagaimana dengan olahraga? Saat main futsal, Takuto terlaihat sangat baik. Ia yakin saat tangan kiri Takuto sembuh, Takuto bisa berlari lebih cepat.

Takuto hanya tersenyum pahit. Megu kemudian menuju piano dan meminta Takuto untuk memainkan sebuah lagu. Takuto terkejut dan menolak. Megu mengatakan siapa tahu bisa menjadi rehabilitas untuk tangan kiri Takuto. Megu terus memainkan tuts piano sambil memanggil nama Takuto.

Takuto mengubah wajahnya menjadi wajah yang agak menyeramkan. Sulit mendeskripsikannya, tapi kita tahu kalau ia sedang dalam masa sulit. Ia mengatakan ia tidak mau. Megu menatap Takuto dan bertanya apakah Takuto marah?
Takuto mencoba mengatur raut wajahnya dan mengatakan Tidak. Tapi Megu mengatakan tadi Takuto marah.
Takuto mencoba tersenyum dan mengatakan ia tidak marah. Megu menatap takuto dan berkata, Kau marah.
Takuto terdiam. Megu mengatakan Takuto harus memberitahunya jika ada yang mengganggu. Jika tidak, ia tak akan bisa mengerti.
Takuto menatap Megumi. Ia masih terdiam.

Megumi mengerti situasinya sedang tidak enak, jadi dia memutuskan untuk pulang. Takuto mengejar Megumi, ia memeluk Megu dari belakang dan memintanya untuk tidak pulang. Megumi mengerti.
Megumi menatap Takuto, mereka berhadapan. Takuto mengatakan ia stress karena tangannya tidak sembuh juga.
Megumi mengerti dan ia minta maaf. Megumi menunduk. Takuto tersenyum dan mengatakan kalau Megumi memainkan bagian tangan kiri.
Megumi tak mengerti. Takuto mengatakan, Piano.

Mereka ada di depan piano. Megu mengatakan ia tak tahu cara bermain piano. Takuto mengataka mereka akan bermain lagu yang bisa di mainkan semua orang dan ia mulai menekan tuts piano. Megumi tahu lagu itu.
Takuto mengajarkan Megu mi tust mana saja yang harus di tekan.
Mereka mulai memainkan lagu yang sederhana itu. Mereka memainkannya dengan gembira, saling pandang dan tertawa bahagia.

Megu dan Takuto di kamar Takuto. Mereka duduk sambil ngobrol.
Takuto bertanya, Jika tangan kiriku tidak sembuh untuk selamanya, apa yang akan kau lakukan?
Megu berfikir. Takuto mengatakan ia menanyakannya tidak dengan serius.
Megu menjawab, aku tidak akan melakukan apapun. Aku akan bersama denganmu selamanya.
Takuto terkejut. Ia tersenyum dan bertanya lagi, selamanya?
Megu mengangguk dan mengatakan kalau ia akan bersama Takuto selamanya.

Takuto tersentuh, ia melingkarkan tangannya ke bahu Megu dan Megu bersandar di bahunya. Megu tersenyum dan mengatakan ia berharap waktu berhenti sekarang.
Takuto mengiyakan. Takuto menatap lilin dengan kedua matanya yang memancarkan kesedihan.
Megumi menutup matanya dan tertidur di bahu Takuto, sedangkan Takuto tidak tidur, ia masih membuka matanya dengan sejuta pikiran.



0 comments:

Post a Comment

 

Random Post

Clover Blossoms Fanpage

In My Radar

Watching :
- We Married as A Job
- Jimi ni Sugoi!
- Weightlifting Fairy
- Goblin
- The Legend of The Blue Sea
- Father I'll Take Care of You
- Beppin-san
- Gochisousan

Waiting Drama:
- Miss in Kiss

Waiting Movies:
- One Week Friends
- Your Lie in April
- Aozora Yell
- Itakiss Movie

Favorite Song This Time :
- Red Cheek Puberty - Galaxy
- Ben - Foggy Road
- Twice - Next Page
- Utada Hikaru - Hanataba wo Kimini
- LYn - Love Story