[Sinopsis] Reply 1988 Episode 5 ~ Part 1

SONG OF THE DAY
Standing Eeg ft. Park Shin Hye - Break Up For You [download]

Sinopsis Reply 1988 Episode 5
-----------------------------------------------------------------------------------
Akhir musim gugur tahun 1988, cuaca mulai sangat dingin sebelum memasuki musim dingin.
Ibu Jung Hwan tampak keluar membuang briket / batu bara / aku ga tau namanya yang sudah digunakan semalaman, ia membuangnya di tempat sampah. Angin berhembus, udara sangat dingin. Ibu Jung Hwan akan bersiap untuk bersin, sayangnya tidak jadi LOL (pasti sakit banged, pas bersin pengin keluar tapi ga jadi HAHHAHAH).
Ibu Deok Seon juga bersiap di rumah untuk makan malam hari ini. Ibu khawatir karena ayah belum kembali juga, karena ini sudah sore.

Deok Seon dan No Eul membersihkan tauge di depan TV dan Deok Seon mengatakan pada ibunya kalau ayah akan terlambat hari ini.
Mereka melihat berita di TV, sepertinya terjadi kerusuhan.
Dari yang aku baca, kerusuhan besar terjadi di Korea selatan selama tahun 1980an. Katanya sih karena diktator militer menjadi presiden di Korea. Hal ini memicu gerakan demokratisasi mahasiswa di seluruh negeri yang ingin ia turun dari jabatannya, dimana tragedi paling parah adalah tragedi GwangJu yang menewaskan ratusan demonstran yang adalah mahasiswa..
Gerakan demonstrasi terus terjadi selama 1 dekade, dipimpin oleh mahasiswa. Sebenarnya itu adalah aktivitas yang berbahaya karena tentu saja artinya itu melawan presiden, jadi para mahasiswa melakukan pertemuan secara rahasia melalui klub-klub  atau organisasi mahasiswa, mirip pemberontakan gitu deh.

Apabila ketahuan kalau mereka ikut organisasi mahasiswa itu, maka mereka akan di tangkap tanpa sebab dan disiksa.
Penyiksaan dan kematian mahasiswa Seoul University pada tahun 1987 memicu demokrasi masal dan berhasil memaksa pemerintah melakukan pemilu ulang secara demokratis, sayangnya yang terpilih adalah kaki tangan diktator militer juga, jadi ga ada perubahan sama sekali, dan demonstrasi mahasiswa terus dan terus terjadi.
Jadi, masa-masa itu adalah masa berbahaya bagi mahasiswa, mereka melawan pemerintahan yang korup, tapi jika ketahuan dia mahasiswa yang ikut melawan, maka ia tak segan akan ditangkap, dipukuli atau lebih buruk lagi.
Karena itu, pada masa itu, waktu yang menakutkan juga bagi keluarga yang punya anak seorang mahasiswa, terutama mahasiswa universitas Seoul.

Ayah Deok Seon berusaha kembali ke rumah melewati jalanan yang penuh dengan gas air mata dan pertempuran antara mahasiswa dan petugas keamanan. Ia menutup mulutnya dengan sapu tangan dan berjalan ditepi. Karena banyak sekali gas air mata, ayah bahkan kesulitan mencari jalan pulang LOL.
Akhirnya ayah keluar dari kerusuhan itu dan sedikit bernafas lega. Tapi tiba-tiba seorang mahasiswa tak dikenal memeluk lengannya. Ayah terus berjalan meski ia terkejut melihat pria itu yang menunduk ketakutan.

Ayah kemudian melirik ke belakang dan melihat dua orang petugas mengikutinya. Ayah mengerti apa yang terjadi, jadi dia melingkarkan tangannya ke leher anak itu dan mulai bicara seolah pada anaknya sendiri, menyuruhnya belajar dengan baik dan jangan ikut-ikutan demo sepert itu.
Karena melihat hal itu, dua orang petugas tadi tidak mengikuti mereka lagi.

Setelah memastikan petugas pergi, mahasiswa itu berterima kasih pada ayah karena sudah menolongnya. Ayah melihatnya dengan kasihan dan mengeluarkan yang disakunya, memberikan pada anak itu, menyuruhnya makan dan membersihkan diri sebelum pulang.
Karena orang tua anak itu pasti khawatir anaknya pulang dengan luka-luka begitu.
Mahasiswa itu tersentuh dan menerima uang ayah.

Keluarga Sung sedang makan malam saat itu datang dari dapur membawa lauk dan kakinya tersandung. Ibu membuka kaos kakinya dan jari-nya berdarah. No Eul dengan sigap segera mencari perban.
Ibu menyuruh mereka makan, karena mereka pasti lapar menunggu ayah pulang tadi. Ibu bertanya kenapa ayah tidak naik kereta bawah tanah saja untuk menghindari demo, tapi ayah mengatakan dimana-mana ada mahasiswa yang perang dengan petugas, jadi sama saja.
Ayah bahkan masih batuk-batuk karena gas air mata tadi.
Kemudian ia bertanya apakah Bo Ra sudah pulang, Deok Seon menjawab mungkin kakaknya pulang terlambat karena belajar dengan temannya.
Ayah memuji Bo Ra yang rajin belajar dan tidak ikut hal-hal seperti demonstrasi dan menyuruh No Eul dan Deok Seon meniru kakaknya untuk rajin belajar.

Bo Ra kembali ke rumah saat itu dan membuat semuanya batuk-batuk, karena bau gas air mata. Ayah batuknya paling parah dan mulai sadar, ia berdri dan mencium lebih dekat, ia mulai mengomeli Bo Ra yang ia yakin pasti ikut demo.
Bo Ra kesal dan mengatakan pada ayah kalau itu tak ada hubungannya dengannya.
Ayah marah mendengarnya dan mulai mengomel lagi, mengatakan ia dikuliahkan untuk belajar bukan untuk demo. Tapi Bo RA makin kesal dan mengatakan kalau ayah tidak tahu apa-apa dan ia tidak salah, bahkan saat ibunya menengahi mereka, Bo Ra malah berteriak pada ibunya! Bo Ra bahkan menutup pintu dengan kasar.

Ibu khawatir dan menyuruhnya makan dulu, ia akan membuatkan telur goreng kesukaan Bo Ra, tapi ayah malah marah pada ibu dan mengatakan jangan buatkan dia apa-apa. Ayah bahkan berteriak bicara pada kakek dan nenek Bo Ra di langit kalau cucu mereka sudah kehilangan akal dan kehilangan masa depan karena menjadi pen-demo.

Bo Ra di kamar tidak peduli dengan omelan ayahnya.
Ia menaikkan lengan bajunya da kita bisa melihat lengannya terluka dan berdarah. Bo Ra mengambil tissu dan menyekanya.
Ia membuka tas dan mengeluarkan buku, dimana didalamnya ada pesan terselip kapan demonstrasi berikutnya akan dilakukan.

Para ibu kali ini tidak berkumpul di luar karena terlalu dingin, mereka bertiga berkumpul di rumah Sun Woo, mereka sedang menyulam (sebenarnya itu bukan menyulam sih, merajut juga bukan LOL).
Ibu menceritakan masalah Bo Ra pada mereka dan ibu Sun Woo jadi khawatir. Tapi Ibu Jung Hwan mengatakan semua mahasiswa juga melakukannya, tidak akan terjadi apa-apa pada Bo Ra selama dia tidak ada di barisan depan.
Meski begitu, tentu saja ibu juga khawatir anaknya ikutan hal seperti itu. Ibu juga mengkhawatirkan hal lain, pertengkaran ayah dan anak itu membuat ribut di rumah. Para ibu juga ga ngerti kenapa hubungan ayah dan Bo Ra tidak baik. Ibu hanya bisa mendesah.
Ibu Sun Woo mengatakan kalau masalahnya adalah Bo Ra, bukan ayah, bahkan meskipun Deok Seon ada di peringkat terakhir, ia lebih menyukai Deok Seon karena Bo Ra sangat menakutkan.

Kemudian perhatian mereka teralih saat ada iklan di TV dimana aktornya sangat tampan. Iklan sepatu Reebok tayang di Tv, dimana si aktor naik di atas kursi dan sok keren orrr memang keren HAHHAHAHA.
Ibu Deok Seon menghela nafas dan mengatakan anak-anak pasti akan menirunya.

Dan tentu saja, di kelas sekolah anak laki-laki, saat istirahat siang, mereka mulai menirukan adegan di iklan itu.
Sang ketua kelas, Sun Woo yang memulainya dan melakukannya dengan baik, bahkan penutupannya juga oke, dimana ia melihat pada cermin yang di pegang Dong Ryong.
Sun Woo melakukannya dengan bagus dan semuanya bertepuk tangan.
Kali ini Jung Hwan akan mencobanya juga. Tapi ia terlalu cemen untuk mengambil resiko jadi ia meminta SUn Woo melakukannya lagi.
Yang lain pada badmood HAHHAHAHA.

Sun Woo bersiap mencobanya kembali, dengan lebih menantang dimana ia mulai dari luar pintu kelas, Jung Hwan malah ga ngerti, dikiranya Sun woo mau pergi ke manaaaa gitu LOl.
Dong Ryong membalikkan kursi dan ia siap membuka pintu.  Sun Woo masuk lagi dengan keren dan mulai tantangannya.
Ia bersiap berlari dan melompat, semuanya lancar sampai dia salah langkah dan terjatuh.
Sun Woo berteriak kesakitan, JUng Hwan menggendong Sun Woo di punggungnya dimana Sun Woo memegang kakinya yang sakit dan Dong Ryong membukakan jalan untuk mereka berdua.

Sun Woo tampak berbaring di tempat tidur, kakinya patah dan di gips. Jin Joo meletakkan kompres di dahinya. Sun Woo mengatakan kalau ia tidak apa-apa dan sama sekali tidak sakit.
Ibu juga ada disana dan menatapnya dengan khawatir. Sun Woo bahkan menyuruh adiknya menciumnya, katanya ia akan cepat sembuh, dan JinJoo pun mencium kakaknya Hihihihihihi, imut banged ntu anak yak...
Sun Woo mengatakan pada ibunya kalau ia sungguh tidak apa-apa. Tapi ibunya tetap khawatir dan bertanya apakah Sun woo ingin makan sesuatu, ia akan membelikannya. Sun Woo tertawa dan mengatakan kalau ia bukan anak-anak lagi.
Sun Woo mengatakan ia baik-baik saja dan tidak ingin makan apapun.
Ibu menghela nafas.

Ibu bergegas ke kedai dan membeli tauge & tahu untuk di sup. Tapi mata ibu tertarik melihat pisang yang kulitnya udah kecokelatan.
Ibu bertanya berapa harganya, pemilik mengatakan harganya 2000 won. Ibu terkejut, belanjaannya aja cuma 700 won.
Pemilik menggoda ibu untuk membelinya, karena ia tahu Sun Woo suka pisang, dan lagi sun Woo sedang sakit.


Ibu pulang ke rumah dengan gembira dan memanggil Jun Joo, karena ia membeli susu rasa pisang.
Jin Joo suka sekali sama susu pisang dan meminumnya sambil nonton Anime.

Sun Woo dikamar memperlihatkan wajah malu + ga enak, lalu tiba-tiba sedotan susu pisang di masukkan dalam mulutnya dan ia mencoba meminumnya dengan gaya lucu.
Lalu tampak Deok Seon menatapnya dengan khawatir LOL.
Sun Woo merasa tak enak dan menyuruh Deok Seon pulang saja. Kening Deok Seon mengerut dan mengatakan kalau ia mengkhawartirkan Sun Woo.
Jung Hwan ada dibelakang mereka, sedang minum susu juga sambil membaca, ia mulai bicara yang membuat Deok Seon kesal, intinya ia menyuruh Deok Seon pulang.
Deok Seon menahan rasa kesalnya dan bertanta, Kau tidak mau pulang?

Jung Hwan terkejut dan menatapnya, Kalau aku pulang kalian mau ngapain?
Deok Seon kesal dan menatapnya, Tidak ada hubungannya denganmu kan?
Sun Woo menghentikan pertengkaran mereka dan menyuruh keduanya untuk pulang saja.
Deok Seon makin kesal pada Jung Hwan, ini semua Jung HWan yang mulai, kalau tidak ia masih bisa berlama-lama di kamar Sun Woo.
Deok Seon menatap Jung HWan dengan tajam, Jung Hwan menatapnya juga (dengan tatapan pulang sana, aku ga salah apap-apa kok) sambil minum susu pisang miliknya HAHHAHAHAAHA..
Jung Hwan cemburu ni yee~

Ibu Sun Woo akan memasak nasi, saat ia mengambil beras di tempat beras dan berasnya habis, tinggal sedikit lagi. Ibu mengeluh karena ia bahkan tidak punya uang ntuk membelinya sekarang.
Ibu juga pergi ke gudang untuk mengambil briket dan menemukan briket persediaan mereka tinggal satu-satunya. Ibu menghela nafas dan mengeluh lagi.

Episode 5 : Preparation For Winter

Ayah dan Ibu Jung Hwan duduk di ruang TV, diam, menatap ke depan. Lalu keduanya excited saat mendengar seseorang datang.
Ternyata untuk persediaan musim dingin, keluarga Jung Hwan memasok persediaan briket, mereka membeli sangat banyak, satu mobil pickup HAHHAHA.
Saat pekerja memindahkan briket dari mobil ke rumah, Ibu JUng hwan bertemu dengan ibu Sun Woo yang baru pulang dari membeli 2 buah briket.
Ibu Sun Woo memuji keluarga Jung Hwan yang tidak akan kedinginan di musim dingin dan mengatakan kalau entah kapan ia akan bisa seperti itu.
Ibu Jung HWan mengingatkan kalau dulu ia juga pernah miskin.
Ibu Jung Hwan kemudian mengatakan kalau ibu Sun Woo tidak perlu memasak malam ini, karena ia memasak abalon, ia akan memberikannya pada Sun Woo yang sedang patah kakinya.

Ibu Sun Woo kemudian mengatakan kalau ibu mertuanya akan datang, jadi ia sedang bersiap-siap. Mendengar hal itu, mood ibu Jung Hwan langsung berubah.
Ia kesal dan mengomel dan mengomel tentang ibu mertua ibu Sun Woo yang sangat jahat. Bagaimana dulu ibu mertua memperlakukan ibu Sun Woo dengan sangat jahat, menyalahkan ibu Sun Woo atas kematian puteranya dan bertindak seolah dia satu-satunya yang kehilangan anak.
Ibu Jung Hwan bete sekali dengan ibu mertua itu dan mulai menjelek-jelekkannya, pokoknya kayaknya ia anti banged sama ibu itu.
Ibu Sun Woo hanya tertawa dan mengatakan kenapa ibu Jung Hwan lebih marah dari pada dia.
Kemudian ibu Jung Hwan bertanya apakah ibu Sun Woo akan bertemu mertuanya dengan pakaian sepeti itu, Ibu Sun Woo merasa tak ada yang salah dengan pakaiannya dan mengatakan kalau ia sama sekali tidak malu.
Ibu Jung Hwan meminjamkan mantelnya pada ibu Sun Woo.

Ibu mertua alias nenek Sun Woo datang berkunjung ke rumah dan awalnya ia bicara dengan Sun Woo yang tak bisa keluar kamar. Kemudian ia melihat kesana kemari sambil menghela nafas, membuka rak piring dan persediaan beras, nenek kayaknya kesal sekali.
Ia duduk dekat ibu Sun Woo dan ibu sun Woo selalu memotong tiap nenek bicara.
Nenek mulai bersikap menyebalkan dengan protes pada pakaian ibu yang jelek, rumahnya yang kurang panas dan takut cucunya sakit kedinginan, menuduh cucunya kelaparan karena tak cukup nasi dan lain lain.
Nenek terus mengeluh dan mengeluh tentang ibu sampai pada batasnya, dia mengatakan kenapa anaknya menikah dengan 'orang seperti ibu' dan mulai mengatakan hidupnya menyedihkan dan hal menyakitkan lainnya.

Ibu menahan air matanya, ibu bertanya kenapa nenek mengatakan hal-hal seperti itu. Ia juga adalah puteri yang berharga bagi ibunya. Bagaimana nenek bisa mengatakan hal seperti itu. Ia akan merawat anak-anaknya dengan baik, bahkan jika ia harus memotong rambutnya, ia akan melakukannya dan membuat anak-anaknya masuk universitas dan membuat mereka berhasil.
Ia ingin nenek tidak datang lagi ke rumah mereka., ibu berteriak pada Nenek menyuruhnya jangan datang dan menggangu mereka lagi, menjelek-jelekkannya di depan anak-anaknya.
Ibu berteriak sambil menutup telinga Jinjoo, meski Jin Joo masih terlalu kecil untuk mengerti hal itu, ibu tetap menutup telinga puterinya.
Nenek kesal sekali melihat ibu.

Nenek pulang dengan kesal dan mengambil amplop uang memberikannya pada ibu. Ibu mengatakan tidak usah, tapi nenek memaksanya dan mengatakan itu bukan untuk ibu, tapi untuk cucunya.
Saat nenek sudah di luar pagar, ibu mengejarnya dan memasukkan amplop itu dengan paksa ke dalam tas nenek, ia mengatakan kalau ia akan menguru anak-anak dengan tangannya sendiri dan tidak butuh bantuan ibu mertua.
Ibu meninggalkan nenek di luar.

Ibu menangis sambil minum soju sendirian. Ia menangisi nasibnya dan kenapa ibu mertuanya begitu padanya.
Ia melihat di atas meja, bubur abalon yang dibuat ibu Jung Hwan untuk Sun woo.
Ibu bergumam kalau orang asing lebih baik padanya dari pada keluarga sendiri.
Setelah menyeka air matanya, ibu berusaha ceria lagi dan masuk ke kamar Jung Hwan membawakan semangkuk bubur abalon.
Tapi Jung HWan sudah tidur, bersama adiknya.
Ibu tersenyum melihat kedua anaknya dan bergumam sesautu.

Keesokan harinya, ayah Taek sedang menyapu jalan saat ibu Jung Hwan keluar untuk membuang briket. Mereka saling menyapa dan ibu bertanya dimana Taek saat Taek keluar minta makan pada ayahnya.
Ibu Jung Hwan meminta TAek mengambil bubur abalon di rumah, karena Taek belum sarapan. Taek berterimakasih.
Ibu menyiapkan bubur abalon dan memasukkannya ke dalam tempat. Kemudian ia menjelaskan pada Taek untuk menghangatkannya dulu sebelum memakannya dan ibu menjelaskan ini dan itu sampai ia sadar kalau Taek tidak mengerti apa-apa.
Ibu menghela nafas dan menyuruhnya membawa bubur itu, nanti ia akan menjelaskannya pada ayah TAek  cara memanaskannya.

Taek akan pergi saat Jung Hwan keluar dari kamarnya. IA terkejut kenapa TAek ada di rumahnya pagi-pagi dan Taek heran kenapa Jung Hwan tidak sekolah. Jung Hwan mengingatkan kalau ini hari minggu dan mereka libur LOL.
Ibu memberikan sesuatu pada Jung HWan dan ia mengajak Taek keluar. Di luar mereka bertemu dengan Deok Seon yang masih memakai piyama, setengah mengantuk, mengambil koran pagi.
Deok Seon tidak peduli dengan penampilannya yang berantakan dan menyapa Taek, bukan Jung HWan LOL.

Tiba-tiba gerbang terbuka, Sun Woo datang menggunakan kruk dan memanggil nama Deok Seon. Deok Seon dengan sigap membersihkan matanya dengan liur dan memastikan tidak ada iler menempel di bibirnya, merapikan rambut dan tersenyum pada Sun Woo.
Sepertinya Sun Woo melihat reaksi Deok Seon, dan ia pura-pura tak menyadarinya dan menyapa Taek dan Jung Hwan.
Jung Hwan bertanya kenapa Sun Woo pagi-pagi datang dengan keadaan seperti itu.
Sun Woo mengatakan pada Deok Seon kalau ia mau meminjam kamus.

Deok Seon cukup terkejut dan memastikan lagi, kamus? kau mau meminjam kamus padaku pagi-pagi begini?
Jung Hwan juga bingung, memangnya kau tidak punya kamus?
Sun Woo ragu-ragu dan mengatakan kalau dia tidak punya.
Jung Hwan bingung dan mencoba mengingat-ingat lagi, ia tidak ingat dan berkata, ah, begitu ya
Tapi entah kenapa, Taek menatap Sun Woo dengan tatapan kalau dia tahu alasannya.
Jung Hwan tidak bingung lagi dan mengatakan kalau meminjam punya Deok Seon memang bagus sih, kamusnya akan seperti baru lagi karena ga pernah dibuka.
Deok Seon kesal dan menyuruhnya diam.

Taek bertanya apakah kaki Sun Woo baik-baik saja dan Sun Woo mengatakan kakinya baik-baik saja, tidak sakit kalau berjalan.
Deok Seon menawarkan Sun Woo menunggu disana, ia akan mengambilkannya. Tapi Sun Woo memaksa ia akan kerumah Deok Seon untuk mengambilnya sendiri.
Jadi Deok Seon membantu Sun Woo berjalan meski ia tidak membantu apapun karena Sun Woo mengatakan kalau ia tidak apa-apa.
Jung Hwan dan TAek menatap keduanya.
Jung HWan kelihatan cemburu melihat Deok Seon pegang-pegang Sun Woo. HAHHAHAHAHHA.

Ibu Jung Hwan sedang sibuk di rumah mempersiapkan makanan untuk keluarganya. Jung Bong datang saat ibu membuat sesuatu dan bertanya dimana ini dan itu. Ibu menjelaskan padanya tempatnya, lalu meminta Jung Bong membantunya mengambil mangkuk tempat sayur, tapi Jung bong malah mengambil mangkuk kecil tempat sambal, ibu menghela nafas dan menyuruhnya ke kamar.
Ibu masih memasak gulai saat ayah datang dan bertanya dimana penghisap toilet. Ibu menyuruhnya mengaduk gulai yang mendidik sementara ia mencarikan penghisap toilet.
Ibu menemukan penghisap toilet dan akan memberikannya pada ayah saat ia lewat di ruang TV dan Jung Hwan nonton TV dengan volume besar, ia menyuruh mengecilkannya. Jung Hwan juga meminta ibunya mengambilkan koran yang ada dilemari.
Ibu belum sempat bernafas saat jung Bong datang berteriak kalau tangannya terluka dan berdarah. Ibu mencoba melihat yang mana yang terluka, LOl, sama sekali ga ada yang dikhawatirkan pun, hahhhaa, hanya luka keciiiiiiiiiiiiiiiiiiiiil.

Ibu mengobati luka Jung bong dengan betadine dan Jung Bong berteriak kesakitan, sementara ayah berlari keluar dan mengatakan kalau gulainya mendidih dan akan tumpah, ibu menyuruhnya mengecilkan api.
Jung Hwan sibuk menanyakan sesuatu sementara Jung Bong berteriak kesakitan karena betadine dan ayah kembali berteriak kalau gulainya masih meluap keluar. Jung Hwan juga sama sekali ga membantu dan terus bicara, abang terus berteriak dan ayah terus memanggil ibu.
Ibu kesal melihat Jung Bong dan memukul kepakanya, ia mengatakan Jung Bong ga akan mati karena luka kecil itu. LOL.
Super mom!!! All mom is super mom!!!

Pagi itu Deok Seon sarapan dengan lahap sampai kedua orang tuanya jadi bingung kenapa dia makan cepat-cepat. Deok Seon mengatakan ia akan mulai belajar di ruang belajar hari ini dan kedua orang tuanya, terutama ayah sangat senang dengan perubahan puterinya itu.
No Eul mengingatkan kalau ini adalah hari pertama Deok Seon, Deok Seon menatapnya tajam dan mengatakan kalau hari pertama itu adalah awal yang penting.
Deok Seon menyelesaikan sarapannya dan berangkat. Ayah memuji puterinya yang sudah mau belajar dan serius masuk ke universitas.

Hari Pertama Deok Seon menggunakan ruang belajar sendirinya, ia mengeluarkan semua buku dari dalam tasnya, menyusunnya di meja, dari yang paing tinggi ke paling rendah.
Ia membuat jadwal di sebuah buku dengan sangat rapi.
Ia mengeluarkan isi kotak pensilnya dan menyusunnya dengan rapi.
Deok Seon juga membersihkan mejanya dan juga mengepel lantai dibawah mejanya dengan bersih.
Dan pada akhirnya, kita melihat Deok Seon tidur dibawah meja, tidur siang karena kelelahan.
Rumah belajar akan menjadi rumah keduanya mulai dari sekarang.

Keluarga SUng masih makan dan ayah bertanya dimana Bo Ra. Ibu mengatakan Bo Ra sudah ke kampus pagi-pagi sekali. Ayah khawatir ia akan ikut demo lagi tapi ibu meyakinkan Bo Ra belajar di perpustakaan karena sebentar lagi mereka akan ujian.
Lalu TV menyiarkan Iklan cokelat yang dibintangi Lee Mi Yeon dan No Eul terpesona dengannya, ia bahkan mengatakan andai saja Lee Mi Yeon adalah adiknya LOL.
Ayah terkejut saat tahu kalau umur Lee Mi Yeon dan Deok Seon sama, tapi ayah masih memuji puterinya, ia mengatakan Deok Seon jauh lebih cantik dari pada Lee Mi Yeon LOL. Ibu juga setuju, Deok Seon jauh lebih cantik. HAHAHAHA

Dan si cantik itu sedang tidur di lantai ruang belajar dan ngences pula OMG!!!!!!!!!!!
Deok Seon bermimpi membintangi CF sebagai Lee Mi Yeon, dimana pria yang bersamanya, yang ia tarik jas-nya adalah SUn Woo LOL.
Deok Seon berakting seperti Lee Mi Yeon dalam CF, bersembunyi dalam jas si pria, sambil senyam senyum pada kamera dan makan cokelat, lalu malu-malu, kemudian menatap si pria.
HEOOOOL, Deok Seon asli senyum dalam tidurnya, mana ilernya kemana-mana HAHAHHAHA.

Jung Hwan tidur di pangkuan Jung Bong saat TV menyiarkan CF Lee Mi Yeon, dan Jung Hwan bermimpi hal yang sama.
Ia mimpi memerankan CF bersama Deok Seon dimana ia menjadi si pria dan Deok Seon senyam senyum padanya.
Jung Hwan tersenyun dalam mimpinya, bahkan ia tidak merasakan snack berjatuhan di wajahnya, karena Jung Bong makan snack belepotan LOl.

Ayah juga ada disana menonton TV, saat telpon berdering dan tidak ada satupun dari mereka yang mau mengangkatnya.
Ayah malah sibuk menukar channel Tv menggunakan kakinya, sementara Jung Hwan yang baru bangun ga peduli dengan telpon.
Ibu yang sudah sangat sibuk sejak pagi kesal melihat mereka dan menasehati suaminya jangan melakukan hal itu dan pakai kaos kaki dengan baik, ia juga menasehati Jung Bong ini dan itu.
Ibu menghela nafas dan mengangkat telponnya, dari rumah orang tuanya yang memberi kabar kalau nenek sakit, kakinya terluka dan menolak ke rumah sakit.
Mau tidak mau ibu harus pergi ke sana selama 2 hari.
Ayah berniat ikut bersama ibu, tapi ibu melarangnya, karena anak-anak mereka juga harus di rawat.


Ibu akhirnya memutuskan mengajari ketiganya bertahan hidup selama ia tak ada disana.
Ibu membuka lemari dan menunjukkan yang mana tempat celana dalam, yang mana tempat celana rumah dan mana celana untuk bepergian. Ia juga menjelaskan bagaimana cara memasang briket dan apa yang harus dilakukan kalau 2 briket menyatu.
Ibu juga ke lemari es dan menjelaskan makanan yang sudah ia siapkan ini dan itu. Pokoknya mereka harus makan dan jangan kelaparan LOl.
Sesi belajarnay lucu, Jung Bong banyak nanya, banyak jawab dan ayah serta Jung Hwan kebagian tepuk tangan dan angguk angguk HAHAHHAHAHAHA.

Tiba waktu ibu pergi, mereka mengantar ibu ke gerbang, tapi ibu masih menjelaskan ini dan itu. Ayah mengatakan ia mengerti dan menyuruh ibu cepat pergi karena ibu mertua sudah menunggu.
Ibu masih belum yakin dan menjelaskan sesuatu pada Jung Hwan yang mengangguk-angguk dan ayah lagi-lagi menyuruhnya segera pergi karena mereka akan baik-baik saja dan mengurus rumah dengan baik.
Ibu masih tidak bisa meninggalkan mereka dan khawatir tapi ayah menyuruhnya jangan khawatir. Ibu bahkan berkali-kali berbalik tapi ayah menggunakan tangannya untuk menyuruh ibu pergi, karena kata-kata sudah tidak mempan lagi HAHHAHAHAHAHA.

Hanya beberapa detik setelah ibu pergi, ketiganya langsung berlari masuk ke dalam rumah, melepas pakaian dan celana mereka, melemparnya kesana dan kemari. Ayah tiduran di depan TV, menyalakan dengan kakinya.
Jung Bong di dapur mengambil nasi, mencampur dengan mayonaise, margarin dan gula. OMG!! ia memakannya dengan baik, emang enak ya?
Jung HWan ikutan bergabung dengan ayah dan ia hanya mengenakan boxer ajaaaaaaaa!!!!!!!!!! OMG!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Ia membuka cemilan dan cemilannya beterbangan, ayah memakan yang dilantai dan ia santai tiduran disamping ayah sambil ketawa-ketawa nonton TV, HAHHAHAHAHA.

Deok Seon masih tidur di ruang belajar, sampai malam hari. Untung saja Mi Ok dan Ja Hyun menemukannya, kalau tidak mungkin dia tidak akan bangun-bangun sampai pagi LOl.
Deok Seon bertanya pada mereka sekarang jam berapa dan saat mendengar jam-nya, Deok Seon terkejut dan mengatakan ia harus segera pulang.
Mereka bertanya apakaha ada urusan penting, dan Deok Seon dengan polos mengatakan kalau ini waktunya makan malam HHAHAHAHAAHA.


Keluarga Sung sedang makan malam sambil menonton Tv dan Tv menyiarkan berita tentang demonstrasi lagi. Ayah terus-terusan mengeluh kenapa para mahasiswa sibuk berdemo seperti itu.
No Eul yang maanya tak lepas dari Tv melihat sesuatu dan menyentuh Deok Seon. Deok seon melihat ke TV dan terkejut kemudian mencoba mengalihkan perhatian ayahnya. Ayah bicara pada Deok Seon tentang Deok Seon yang harus serius belajar mulai dari sekarang, dan ia senang akhirnya Deok Seon mulai belajar dan harus lebih rajin daripada kakaknya.
Deok Seon cuma mengangguk dan sedikit tersenyum tak enak takut-takut ayah melihat TV.
Tapi ibu keburu melihat TV dan terkejut melihat Bo Ra ada di TV, demo di barisan depan.
Ayah juga melihat dan terkejut. Kedua orang tua tergesa-gesa berdiri dan mengambil jaket mereka.

Mereka berdua akan keluar mencari Bo Ra saat Bo Ra kembali ke rumah, dengan rambut acak-acakan. Ibu lega sekali dan langsung memeluknya, bersyukur karena anaknya baik-baik saja. Ibu bahkan terlalu lemas untuk berdiri, karena lututnya lemas dan terduduk, memeriksa badan Bo Ra takut-takut ada yang terluka.
Ayah langsung naik darah melihat Bo Ra dan memarahinya, Ayah mencengkeram kerah kemeja Bo Ra dan mulai memarahinya karena dia benar-benar kehilangan pikirannya, membuat keluarga khawatir dan bahkan bisa saja membahayakan keselamatannya dan juga keluarganya.
Deok Seon dan No Eul berusaha menghalangi ayah, takut ayah akan memukul Bo Ra, Ayah terus memarahinya dan mengatakan kalau dia akan merusak hidupnya ikut demo yang begituan.

Ayah bertanya apa yang akan Bo Ra lakukan tentang ibunya, yang telah sepanjang hidupnya mengabdi untuk keluarga dan anak-anaknya, dan bertanya bagaimana Bo Ra bisa pergi demo walaupun tahu ibunya akan dalam bahaya. Ayah berteriak dan mengatakan ia akan memotong rambut Bo Ra.
Ibu segera meminta Bo Ra minta maaf dan tidak akan melakukannya lagi, pada ayahnya. TApi Bo Ra malah berteriak dan mengatakan kalau dia tidak salah apa-apa.
Kemarahan ayah semakin memuncak dan mengatakan ia akan mengurung Bo Ra dalam kamar sampai dia menyadari kesalahannya dan meminta maaf dengan benar dan berjanji tidak akan ikut demo lagi.
Ayah juga mengingatkan pada ibu, sebelum Bo Ra sadar, jangan memberikannya makan dan minum setetespun.
Ibu menangis dan menyuruh Bo Ra untuk minta maaf, tapi Bo Ra tetap keras kepala dan mengatakan kalau ia tidak salah apapun. Bo Ra masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu.

Bo Ra di kamar tiduran dengan wajah bete dan mendengar ayah masih mengomel mengatakan kalau Bo Ra anak yang tidak tahu malu, bagaimana dia bisa melawan orang tuanya setelah semua yang mereka lakukan, mereka kelaparan dan mengorbankan semuanya untuk Bo Ra sehingga dia masuk ke Universitas  Seoul demi masa depannya nanti. Ayah bahkan menangis, terdengar dari suaranya yang pecah saat bicara, bagaimana bisa anak mereka menancapkan paku ke hati orang tuanya.
Bo RA menutup badannya dengan selimut.

Deok Seon yang mengkhawatirkan kakaknya curhat pada Dong Ryong di kamar Taek, ia khawatir kakaknya akan di tangkap dan disiksa. TApi Dong Ryong mengatakan tidak apa-apa, jika Bo Ra di tangkap mereka akan memintanya menandatangi surat perjanjian kemudian melepaskannya lagi.
Deok Seon makin khawatir, karena kakaknya adalah Sung Bo Ra, yang tidak akan pernah mau melakukan hal itu. Dong Ryong mengangguk, ia juga tahu bagaimana sikap keras Bo RA. Tapi karena Bo Ra sekarang ada i rumah, jadi menurut Dong Ryong sudah tidak apa-apa.

Pintu terbuka, Jung Hwan disana, melihat keduanya dan bertanya, apa yang kalian lakukan berdua?
Dong Ryong jadi bingung, ia menatap Deok Seon dan menatap Jung Hwan, aku berfikir ia bingung karena tiba-tiba ditanya begitu setelah selama ini Jung Hwan ga pedulian HAHHAHHAHAHA..
Jung Hwan bertanya lagi ngapain mereka berduaan disana.
Dong Ryong tertawa dan mengatakan kalau mereka berteman jadi apa lagi yang mereka lakukan, kemudian Dong Ryong melingkarkan tangannya di bahu Deok Seon.
Mata Jung HWan langsung terbelalak melihatnya HAHHAHAHAHHA.

Deok Seon sedang tidak mood dan mendorong Dong Ryong menjauh, ia mengambil tas dan jaketnya.
Jung Hwan bertanya Deok Seon mau kemana. Deok Seon mengatakan ia akan ke rumah belajar dan Dong ryong tertawa karena Deok Seon akan mulai serius belajar, ia bahkan mengatakan seperti apapun Deok Seon belajar dia tidak akan jadi pintar, maka sebaiknya menyerah saja, seperti dia.
Deok Seon mengerutkan keningnya.
Jung Hwan kelihatan khawatir dan berkata kenapa harus belajar disana, lagi pula ini sudah malam.
Deok Seon mengatakan ia akan pulang sebelum tengah malam, jadi ia akan baik-baik saja.
Deok Seon meninggalkan mereka, Jung Hwan masih kelihatan khawatir.

Telpon di kamar Taek berdering, Dong ryong mengangkatnya dan hanya menjawab, iya, iya dan iya.
Jung Hwan bertanya siapa. Dong Ryong mengatakan itu ayah Jung Hwan yang lapar dan menyuruh Jung Hwan cepat pulang untuk membuat makanan.
Jung Hwan menghela nafas.l

Jung Hwan pulang ke rumah dan memasak nasi. Ia merendam nasi dan memukul-mukul saringan ke beras, lucunya ia malah ga mengambil ampas gabahnya LOL.
Ia juga kesulitan membuka sesuatu, dan Jung bong langsung datang dan menjelaskan teori secara fisika begini dan begitu HAHHAHAHAHAHA.
Mereka menyiapkan makan malam dan berantakan, akhirnya Jung bong harus turun tangan dimana mereka mencampurkan semua lauk dengan nasi dan mengaduknya.
Jung Bong menjadi pencicip pertama, dan saat Jung Bong memberi kode rasanya enak, baru lah ayah dan Jung Hwan makan HAHAHAHAHA. Itu kan nasi ayam / nasi anjing yang dimakan Han Ji Eun HAHHAHAH.

Ibu dan No Eul bersiap tidur sementara ayah berjaga di depan kamar anak perempuannya dengan selimut.
Ibu menyuruhnya untuk tidur tapi ayah menolak, kali ini ia tidak akan kalah dari Bo Ra, ia akan memastikan Bo Ra tidak keluar sebelum meminta maaf padanya. IA tidak akan membiarkan Bo Ra demo lagi.
Ayah kemudian mencari Deok Seon yang masih belum pulang juga karena ini sudah larut malam.
Ibu hanya menghela nafas dan bersiap tidur. No Eul memikirkan kakaknya..

DAn Deok Seon ada di rumah belajar. TIDUR.

Rumah keluarga Kim sangat sangat berantakan di malam pertama ibu pergi. Sampah disana dan disini, pokoknya parah banged. BAhkan Jung Bong dan ayah tidur di depan TV dikelilingi sampah.
Jung Hwan di kamar, duduk di meja belajar, mencoba belajar meskipun ia sangat sangat mengantuk.
Ia mencoba berbagai posisi untuk membuatnya tetap terbangun, tapi gagal, ia tetap mengantuk, tapi ia berusaha untuk tidak tidur.
Ia bangun dan mengganti posisi, lalu tertidur lagi, bangun lagi dan ganti posisi tapi tertidur lagi.
Hanri menunjukkan pukul 12 malam, Jung Hwan menghela nafas dan menatap ke luar jendela.

Lampu kamar Jung HWan masih hidup.
Seseorang membuka pagar rumah dan anjing keluarga Kim menggonggong. Terdengar langkah kaki dan pintu rumah keluarga Sung terbuka.
Terdengar suara Deok Seon yang mengatakan ia sudah pulang. Ibu menyuruhnya mematikan lampu.
Tepat beberapa detik setelah lampu rumah keluarga Sung mati, Jung Hwan juga mematikan lampu kamarnya.
CIEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE Nungguin yaaaaa???


0 comments:

Post a Comment

 

Random Post

Clover Blossoms Fanpage

In My Radar

Watching :
- We Married as A Job
- Jimi ni Sugoi!
- Weightlifting Fairy
- Goblin
- The Legend of The Blue Sea
- Father I'll Take Care of You
- Beppin-san
- Gochisousan

Waiting Drama:
- Miss in Kiss

Waiting Movies:
- One Week Friends
- Your Lie in April
- Aozora Yell
- Itakiss Movie

Favorite Song This Time :
- Red Cheek Puberty - Galaxy
- Ben - Foggy Road
- Twice - Next Page
- Utada Hikaru - Hanataba wo Kimini
- LYn - Love Story