Sunday, 19 March 2017

[Review] C-Movie: Under The Hawthorn Tree (2010)


Sebenarnya ini masih dalam edisi coming-of-age chinese movie, hanya saja kali ini saya akan membahas sebuah movie yang tidak masuk dalam list awal saya. Aku merasa ini bukan coming-of-age movie, karena temanya terasa lebih serius, meskipun sang tokoh utama adalah seorang siswa SMA.

Aku menemukan movie ini secara tidak sengaja di doramax264, dan karena tertarik dengan posternya yang sebenarnya sejak awal aku sudah merasa ini merupakan movie yang sedih, aku akhirnya mendownloadnya. Aku menontonnya beberapa waktu yang lalu dan berhasil membuat aku menangis sesegukan. OMG. Ini movie terasa banged sedihnya T__T
Dan aku bahkan nggak tahu apa-apa tentang movie ini, jadi aku cukup kaget ternyata female leadnya adalah Zhou Dongyu (My Old Classmate) dan movie ini adalah movie debutnya ^^

Under The Hawthorn Tree adalah sebuah movie yang disutradai oleh Zhang Yimou yang diangkat dari kisah nyata yang ditulis dalam sebuah novel berjudul Hawthorn Tree Forever karya Ai Mi. Aku tidak mengenal sutradara ini tapi aku lihat dia memenangkan banyak penghargaan yang artinya dia populer hehehehhehehe.
Movie yang berdurasi 114 menit ini dibintangi oleh bintang muda saat itu, Zhou Dongyu dan Shawn Dou, dimana movie ini menjadi movie debut mereka berdua. Rilis pada tahun 2010, movie ini menjadi box office di Cina dan mempopulerkan nama dua aktor tersebut.

Under The Hawthorn Tree mengisahkan kisah cinta pertama yang pure, manis, menghangatkan hati sekaligus membuat kita yang menonton menangis. Kisah cinta ini mengambil latar belakang pada masa Cina sedang mengalami masa 'Cultural Revolution' jadi selain kisah cinta, movie ini juga memperlihatkan latar situasi politik saat itu.
Aku sebenarnya tidak mengerti bagian politiknya sama sekali, aku hanya fokus pada kisah cinta pasangan ini, karena temanya memang romance.
Aku suka cara penyampaian movie ini, dimana mereka tidak membuang-buang waktu dan draggy plot karena ada narasi yang ditulis di movienya kalau kita lompat ke adegan berikutnya. Sulit menjelaskannya, harus nonton sendiri memang.

Under The Hawthorn Tree mengambil lokasi di sebuah desa kecil di kota Yichang, Provinsi Hubei pada tahun 1960an/1970an. Mengisahkan kisah cinta suci antara seorang siswa SMA yang cantik bernama Jing dan seorang pria bernama Sun yang bekerja di unit geologi. Aku sebenarnya nggak tau apa pekerjaan Sun ini, awalnya aku pikir dia kaya tentara gitu, tapi di wikipedia katanya dia seorang prospector, di review lain katanya pekerjaannya di unit geologi.
Aku rasa kita bisa menyebut kisah cinta mereka ini sebuah melodrama yang indah dan menyentuh.

STORY

SPOILER ALERT!!!!

"Lovely hawthorn, white flowes blossoming on your brances. Dear hawthorn, why are you so sad?"

Jing ada di tahun terakhirnya di SMA, ia dan teman-temannya mulai menyiapkan diri untuk lulus. Ia dan teman-temannya dikirim ke sebuah desa bernama Xiping, sebagai bagaian dari Cultural Revolution pada saat itu, dimana mereka harus mengajari anak-anak desa dan tinggal bersama keluarga yang ada di desa itu, beradaptasi sekaligus menyelesaikan tugas akhir mereka.
Meski tinggal di kota, keluarga Jing bukanlah orang kaya. Ayahnya di penjara karena 'rightist' (maaf aku nggak ngerti maksudnya apa), sementara ibunya yang sakit-sakitan dituduh sebagai kaum kapitalis. Kalau nggak salah ibu Jing adalah seorang guru. Ibunya berharap Jing akan mengikuti jejaknya nanti untuk menjadi guru, punya masa depan cerah dan bisa membantu biaya 2 adiknya yang masih kecil. Karena itu ia tidak ingin Jing membuat masalah dan fokus pada sekolahnya.
Tapi keluarga mereka terlalu miskin, mereka bahkan kerja sambilan membuat amplop dimana 10 amplop akan dihargai 1 sen, ia, ibu dan 2 adiknya bekerja dengan membuat itu.

Saat kedatangannya ke desa tempat dimana akan tinggal beberapa bulan, mereka berjalan berjam-jam untuk tiba ke desa itu. Dan mereka melewati sebuah pohon hawthorwn. Ada semacam legenda tentang pohon itu, dimana pohon itu tumbuh dari darah para pejuang revolusioner, sehingga ada kalanya bunga pohon hawthorn itu berwarna merah. Jing tertarik dengan pohon itu dan akan menjadikannya tema untuk tulisannya nantinya.
Jing tinggal di rumah sebuah keluarga di desa itu yang menyambutnya dengan baik. Di hari yang sama dengan kedatangannya, ia dan anak bungsu keluarga itu pergi ke sebuah camp untuk menjemput seseorang yang mereka panggil sebagai 'paman ketiga'. Saat tiba di camp, Jing tertarik dengan lagu dear hawthorn yang dinyanyikan disana.
Jing tidak turun ke camp, ia hanya menunggu di jembatan dan melihat paman ketiga dari jauh, seorang pria yang tampan dan terlihat baik hati.
Pria itu adalah Sun, seorang siswa geologi. Di pertemuan pertama mereka, keduanya sudah terlihat dekat dengan membicarakan mengenai tema tulisan Jing dan Sun yang memberikan Jing permen. Bahkan sudah membuat janji kalau mereka akan melihat bunga hawthorn mekar bersama-sama.
Dalam waktu yang cepat, mereka saling tertarik satu sama lain. Dan tumbuhlah rasa cinta dalam hati masing-masing.

Tapi pada saat itu mereka masih menyimpan perasaan masing-masing. Jing sering menatap Sun dengan senyuman secara diam-diam dari jendela kamarnya dan Sun selalu menyempatkan diri datang ke kamar Jing, sekedar menyapa atau memberikan sesuatu, seperti menggantikan lampu di kamar Jing agar lebih terang supaya ia mudah menulis dan memberikannya pena dengan tinta penuh, karena ia tahu kalau pena yang digunakan JIng menulis tintanya hampir habis. Hanya hal-hal kecil seperti itu, keduanya menikmati perasaan mereka masing-masing.
Suatu hari Jing harus kembali ke kota karena ada pertunjukan dimana ia harus bermain disana, Sun berjanji akan menunggunya pulang. JIng melakukan pertunjukan dengan baik dan saat dirumah ia mambantu membuat amplop dan mendengarkan nasehat ibunya untuk selalu melakukan yang terbaik jika ia tak ingin berakhir seperti ibunya.
Pada masa itu, sebenarnya pacaran dilarang, apalagi anak SMA seperti Jing. Kalau ada yang melihat pria dan wanita bersama dan akan menjadi bahan gosip dan bisa di tangkap, karena itu JIng merahasiakan ini dari ibunya.
Saat ia kembali ke desa, Sun sudah menunggunya di stasiun. Dan keduanya berjalan bersama-sama menuju desa, dengan perjalanan yang panjang, mereka singgah makan disuatu tempat, Sun harus berbohong kalau Jing adiknya, karena memang kalau ketahuan mereka bisa ditangkap.

Setelah makan malam, mereka melanjutkan perjalanan melewati hutan menuju desa di gunung. Mereka berjalan berjauhan, disana Sun menceritakan tentang ibunya yang bunuh diri karena ia kapitalis.
Saat mereka akan menyeberangi sungai dengan melompati bebatuan, Sun menawarkan tangannya tapi Jing menolak. Sun tersenyum dan mengambil ranting, ia memegang sisi satunya dan Jing memegang sisi lainnya. Begitulah keduanya berjalan, bergandengan tangan dengan perantara ranting.
Mereka berdua terus berjalan dalam diam. Tapi diam-diam Jing mematahkan sedikit demi sedikit ranting di tangannya dan tangan mereka berdua jadi semakin dekat dan akhirnya mereka bergandengan tangan.
Tidak ada kata-kata disini, keduanya hanya saling tersenyum tanpa bertatapan dan terus berjalan.
YOU KNOW THIS IS SOOOOOOO ROMANTIC!!!!!! ACCCCCCCCCCCCCCCKKKK

Beberapa hari sebelum kepulangan Jing ke kota, ia mendengar kabar kalau Sun sudah punya tunangan. Jing jadi badmood.
Saat Sun datang menemuinya ia bersikap ketus pada Sun. Ia bahkan mengatakan akan membayar apa yang sudah Sun berikan padanya, termasuk harga gula dan pena. Sun mengatakan kalau Jing tidak punya uang, Jing harus menyimpan uang untuk keluarganya, sementara ia punya penghasilan cukup baik dan memberikan hal itu bukan masalah besar baginya.
Tapi Jing tetap bersikeras dan akhirnya Sun mengatakan Jing bisa membayar kalau ia sudah bekerja nantinya.
Dan begitulah, Jing meninggalkan desa bersama teman-temannya tanpa berbaikan dengan Sun.

Di kota sendiri, Jing ingin mencari pekerjaan dan meminta bantuan pihak sekolah. Tapi pihak sekolah mengatakan kalau Jing kecil dan seorang wanita, tak ada pekerjaan yang cocok untuknya. Tapi Jing meyakinkan kalau ia akan melakukan pekerjaan apa saja. Akhirnya ia diberikan pekerjaan berat, pekerjaan untuk pria, menggali bebatuan gitu, atau mengumpulkan batu. Tapi ia tidak mengeluh sebagai satu-satunya perempuan yang ada disana.
Saat ia bekerja, tiba-tiba seseorang datang menemuinya, itu adalah Fang, anak pemilik rumah tempat ia menginap di desa dulu, teman sekamarnya. Fang berkunjung ke kota dan Jing dengan senang hati mengajaknya jalan-jalan. Mereka membeli makanan ini dan itu, Fang ingin menggunakan uangnya, tapi Jing tidak mau, karena ia adalah kakak, ia yang membayarkan FAng.
Sebelum pulang, Fang memberikan uang pada Jing, tentu saja Jing menolak, meskipun Fang mengatakan kalau uang itu dari keluarganya. Tapi akhirnya Fang mengaku kalau Sun yang memintanya memberikan uang itu pada Jing. Jing terlihat kesal mendengar nama Sun dan membahas mengenai tunangannya. Tentu saja Fang terkejut, mengatakan kalau Sun tidak punya tunangan. Tapi JIng mendengar sendiri ibu dan ayah Fang membahasnya. Fang menjelaskan kalau itu adalah foto yang ditemukan orang tuanya, foto kakak Sun, ia berbohong itu adalah tunangannya supaya wanita tidak mendekatinya.
Mendengarkan penjelasan itu, Jing lega, tapi ia tetap menolak uang dari Fang, ia memnyuruh Fang mengatakan kalau Fang tidak bertemu dengannya jadi ia tak bisa memberikan uangnya.

Karena tidak punya uang, Jing tidak bisa membeli seragam tim bola volly sekolah mereka, jadi ia satu-satunya anggota yang tidak mengenakan seragam. Meski begitu, Jing tidak minder dan tetap bermain dengan baik. Saat pulang, seseorang menunggunya, Lin, kakak Fang yang datang menemuinya untuk memberikan walnut. Di dalam karung walnut ada gula (saat itu gula sangat mahal, termasuk makanan mewah saat itu).
Lin mengatakan kalau itu dari kakaknya, mereka mendapatkan gratis. Tapi JIng tahu kalau Lin berbohong. Ia diam-diam memasukkan uang kedalam karung itu. Dan mengikuti Lin dima-diam.
JIng menatap dari jauh dan benar saja, orang yang memberikan semua itu padanya adalah Sun. Sun meminta bantuan Lin untuk mengirimkan ini dan itu ke rumah Jing.
Jing menatap keduanya dari jauh, saat mereka naik perahu untuk menyeberangi sungai. Jing merasa nggak enak kalau diam saja menatap sementara mereka berdua sangt baik padanya, dan akhirnya ia berteriak pada Lin, dipinggir sungai, mengatakan kalau ia memasukkan uang ke dalam karung itu.
Sun yang melihat Jing tanpa ragu sedkit pun langsung melompat ke sungai dan berjalan menuju Jing. Jing kaget. Sun memberikan uang padanya dan ingin JIng menerimanya, ia menyinggung Jing yang satu-satunya tidak punya seragam di tim volly mereka. JIng akhirnya menerimanya, Dan begitulah keduanya berbaikan.
KYAAAAAAAAAAAAAAA Sun ! Aku padamu lah HAHAHHAHAHA. Ini mirip forrest gump huhuhu.

Jing akhirnya membeli seragam dan bermain seperti biasa. Saat bola keluar dari pekarangan sekolah, Jing mengambilnya. Ternyata Sun ada disana, selama ini Sun selalu mengamati Jing dari balik tembok sekolah. Jing tidak ingin ada yang melihat mereka dan Sun mengatakan kalau ia akan segera pergi, ia datang hanya ingin melihat wajah Jing, ia mengatakan Jing sangat cantik mengenakan seragam awwwwwwwwww.
Sejak saat itu, Sun selalu mengirimkan sesuatu ke rumah Jing. Kali ini melalui adik Jing, Sun mengirimpan hawthorn berries. Tentu saja Jing meminta adiknya jangan mengatakan apapun pada ibu mereka.
Jadi setiap kali ada kiriman, JIng selalu mengatakan pada ibunya kalau itu dari desa tempat ia menginap dulu.
Sejak saa itu, Sun selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan Jing, tentu saja secara diam-diam. Mereka seolah-olah tidak saling mengenali, berjalan berjauhan, naik perahu bersama tapi berjauhan, kalau tidak ada orang, mereka baru ngobrol.

 
Suatu hari, keduanya bertemu di sebuah paviliun dekat sungai, agak masuk ke hutan jadi tidak banyak orang.
Aku rasa disini Sun sebenarnya ingin melamar Jing, karena keluarganya ingin ia menikah, ia dijodohkan. Jing bertanya apakah Sun akan meninggalkannya?
Dan Sun menjawab tentu saja tidak, ia tidak akan mengkhianati Jing apapun yang terjadi. Kemudian udara mulai dingin, tapi jaket Sun terlalu kecil untuk mereka berdua, jadi mereka berdiri saling berpelukan.
Disini lumayan sedih nih + ROMANTISSSSSSS. Jing mengatakan kalau ia tidak boleh jatuh cinta karena ia belum lulus, Sun mengatakan ia akan menunggu Jing lulus, 13 bulan lagi. JIng mengatakan ibunya tidak memperbolehkannya jatuh cinta sebelum ia berusi 25 tahun dan Sun mengatakan ia akan menunggu sampai JIng berusia 25 tahun.
Jing berkata bagaimana kalau setelah ia berusia 25 ia masih tidak diperbolehkan ibunya? Sun menjawab, aku akan menunggumu sepanjang hidupku.
AAAAAAAAAAAAACCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCCKK!!!!!!!! Cheesy sih, tapi NGENAAAAAAAAAAAAAAA
Begitu lah dalam cinta Sun pada Jing.

Jing: I still have a year of my probation.
Sun: I'll wait for you for one year and one month.
Jing: My mother wont let me fell in love before I'm 25.
Sun: Then I'll wait until you are 25.
Jing: What if I still cant be with you when I'm 25?
Sun: Then I'll wait for you my whole life.
Ibu Jing sendiri mulai curiga karena JIng sering pulang telat. Ia mengingatkan anaknya yang berjanji berperilaku baik dan akan menjadi guru demi masa depan. JIng mengerti, meskipun ia masih berbohong, ia tak bisa jujur dihadapan ibunya yang sakit.
Dan singkat cerita, JIng akhirnya lulus dari SMA dan mengajar di SMA itu sebagai guru. Demi membalas jasa sekolah padanya, selama liburan musim panas, Jing secara sukarela membantu pembangunan lapangan basket.
Lagi-lagi ia satu-satunya pekerja wanita disana. Ia bertugas membawa pasir dari sungai, meski begitu ia tidak mengeluh. Untung saat itu Sun mengunjunginya jadi Sun membantunya mendorong gerobak penuh pasir. Jing ingin mengambil pasir sekali lagi, dengan begitu ia punya alasan bertemu Sun. Mereka berjalan berjauhan, kalau nggak ada orang baru Sun mendekat.
Ia mengajak Jing istirahat dan membawanya ke sungai. Ia mengajak Jing berenang. Awalnya Jing menolak karena ia tak punya baju renang, tapi Sun sudah membelikannya dan Jing jadi ragu. Sun bahkan menyiapkan kamar ganti untuk Jing. Akhirnya Jing memakainya juga. Dan begitulah mereka menikmati kencan mereka di sungai hari itu, bermain air.
Sun sempat tidur sejenak dan saat bangun Jing memberikan hadiah pada Sun, gantungan kunci ikan mas yang ia anyam sendiri. Sun sangat senang dan mengecup gadis itu.

Jing masih terus bekerja membantu pembangunan lapangan volly dan ia bahkan menginjak semen tanpa sepatu boot, karena itu kaki Jing terluka, lukanya makin parah dan meradang.
Sun datang ke rumah Jing membawa makanan untuk JIng dan adik-adiknya + memberikannya sepatu boot. Tapi Jing takut pandangan orang padanya kalau ia dari keluarga miskin tapi menggunakan sepatu boot. Sun terus memaksa, kalau Jing tidak mau maka ia akan datang ke sekolah dan ikut menginjak semen tanpa alas kaki. Akhirnya Jing menyerah dan menggunakan sepatu boot saat bekerja. Meski para pekerja lain menatapnya, Jing tidak peduli.
Tapi sakit kaki Jing makin parah dan Sun tak tahan melihatnya, ia mengajak Jing ke rumah sakit. Jing tentu saja menolak, karena kalau adayang melihat mereka berdua akan bahaya. Karena JIng terus menolak, Sun mengeluarkan pisau dan melukai tangannya sendiri, membuat Jing terkejut setengah mati. Tapi dengan begitu, JIng akhirnya mau ke rumah sakit.
Disini aku udah mulai curiga, karena mereka membahas luka Sun, darahnya kenapa lambat sekali keringnya.

Pulang dari rumah sakit. Sun memberikan kemejanya pada Jing untuk menutupi wajahnya, ia membonceng Jing di depan dengan sepedanya dan keduanya meluncur dengan bahagia.
Jing tidak perlu khawatir karena tak ada yang mengenalinya. Mereka berdua sangat bahagia dengan hal-hal yang sederhana, sampai ibu Jing melihat keduanya.
Tentu saja ibu Jing marah dan membawa mereka ke rumah, meminta penjelasan.
Ini adegan sumpah sedih banged, saat Sun meminta ibu menyuruh Jing duduk, api ibu bilang kalau Jing sedang dihukum. Sun berdiri mengatakan kalau ia juga akan berdiri kalau begitu. Akhirnya ibu mengalah dan menyuruh mereka duduk. Ibu menasehati mereka berdua, mengatakan mengenai ayah Jing dan bagaimana keluarga mereka tidak punya masa depan dan harapan satu-satunya adalah Jing. Jika sekolah mendengar rumor maka Jing bisa ditendang kapan saja. Jadi, Ibu mengatakan pada Sun, kalau Sun benar-benar mencintai Jing, maka jangan menemui Jing selama 1 sampai 2 tahun, demi kebaikan Jing.
Meski berat, Sun akhirnya setuju. Sebelum ia pergi ia punya permintaan terakhir pada ibu, untuk memperbaiki perban luka di kaki Jing yang lepas, dan ibu membiarkannya, ibu terus membuat amplop.
Jing berjongkok, mengambil kaki Jing dan membalut luka Jing perlahan-lahan. Dalam diam, hanya suara itu yang memukul pisau, kesedihan merasuki tubuh mereka karena mereka akan berpisah. Dan keduanya menangis dalam diam.
SEDIIIIIIHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH ADEGANNYA GILA KEREN BANGED!

"You might not have fallen in love before and not believe in eternal love. When you do fall in love, you'll know there's someone. Who'd rather die than betray you."

Setelah itu ibu mengajak Jing bicara berdua, menanyakan sudah sejauh mana hubungan mereka, apakah sudah ciuman, apakah sudah melakukan ini itu. Jing meyakinkan ibunya kalau ia dan Sun ada dalam hubungan yang sehat, selain bergandengan tangan mereka belum pernah melakukan apapun.
Sesuai janjinya, Sun berhenti menemui Jing sejak saat itu. Suatu hari, JIng mendengar kabar dari Fang kalau Jing masuk rumah sakit karena leukimia.
Jing mengunjungi Sun di rumah sakit dan keduanya bertemu setelah sekian lama. Sun mengatakan ia hanya cek kesehatan biasa bukan leukimia. Tapi JIng tetap khawatir. Sun malah mengkhawatirkan bagaimana kalau mereka ketahuian ibu Jing, ia sudah janji pada ibu Jing. Tapi Jing terlalu merindukan Sun, demi bertemu dengan Sun, ia bahkan berbohong pada keluarga dan sekolah, ia mengambil cuti. Jadi ia akan tidur di rumah sakit selama 3 hari.
Sun awalnya tidak setuju, tapi Jing bersikeras. Saat jam besuk rumah sakit selesai, Jing bersembunyi agar tidak diusir. Tapi tentu saja akhirnya ia ketahuan dan di usir. Tapi Jing benar-benar tidak pulang, ia menunggu semalaman di halaman rumah sakit.
Keesokan harinya, ia dan Sun berjalan-jalan dan berbelanja di kota. Sun membelikan cawan untuk mandi dan bahan baju, karena Jing tidak pernah punya jaket, ia membelikan bahan untuk jaket, berwarna merah. Mereka juga mengambil foto couple berdua ^^


Malam itu, JIng masih menginap di rumah sakit, Sun sudah minta izin pada salah satu dokter disana untuk menggunakan kamar tempat Jing menginap, jadi mereka menginap disana. Sun melihat luka di tangan Sun, saat Sun melukai diri sendiri waktu itu. Sun mengatakan kalau luka itu adalah tanda untuk Jing. Dimanapun ia berada, tak peduli seberapa jauh, jika ia mendengar nama Jing, maka ia akan kembali pada Jing dengan luka itu.
JIng sangat senang dengan bahan jaketnya, ia mengatakan ia akan memakainya nanti, saat mereka berdua pergi melihat hawthorn yang berbunga. Disini Sun sudah mulai aneh, ia mengatakan sesuatu seperti mereka mungkin tidak punya waktu untuk melakukan itu.
Saat Sun akan kembali ke kamarnya, Jing ingin Sun tinggal. Karena itu mereka akan menginap berdua. Saat mengambil air untuk JIng membersihkan diri, ia melihat ada cawan yang bergambar buah berry hawthrow dan Sun membeli cawan itu saat itu juga.

Singkat cerita, waktunya tidur, Sun memutuskan melihat Jing tidur sambil duduk, karena tempat tidur terlalu kecil, tapi Jing meminta Sun tidur disampingnya. Ia mengatakan ia sudah memutuskan saat datang kesini, ia akan membuarkan Sun melakukan apapun yang Sun inginkan.
Mereka tidur berdua, dan suasana terasa romantis tapi menyakitkan. Pada akhirnya hati Jing masih belum siap dan Sun tersenyum, ia mengerti.
Sebelum itu mereka membicarakan mengenai Jing yang nanti akan menjadi ibu, kemudian nenek dan buyut. JIng bingung kenapa Sun tidak ada didalamnya, saat Jing bertanya bagaimana dengan Sun, Sun tidak menjawab dan mengalihkan pembicaraan mengatakan kalau JIng hidup, maka ia akan hidup, kalau JIng mati, ia akan lebih mati lagi.
Jing menangis mendengar hal itu. Sun menghapus air mata gadis itu. Sungguh adegan yang menyakitkan. Mereka kemudian tidur sambil bergenggaman tangan.

 
Keesokan harinya, Sun mengantarkan Jing pulang ke rumahnya. Tapi mereka tak bisa terlihat bersama, jadi di bus mereka duduk berjauhan, di kapal juga mereka duduk berjauhan. Bahkan setelah berpisah, mereka seperto orang yang tidak saling kenal, tapi merasakan satu sama lain.
Ini adalah adegan yang sangat sangat sedih saat keduanya berjalan di ke arah yang sama, tapi sungai ada di tengah mereka, menghalagi mereka. Jing tidak bisa menghentikan air matanya saat itu.
Begitu juga dengan Sun. Sun bahkan membuat pose seolah-olah sedang memeluk dan Jing membalas dengan pose yang sama. Kesedihan mereka berdua sangat sangat terasa, air mata tidak bisa berhenti saat perpisahan itu. Itu adalah saat terakhir mereka bersama.

Teman Jing hamil. Temannya mengatakan kalau semua pria hanya ingin tidur bersama wanita dan meninggalkannya. JIng menjadi tidak tenang karena ia sudah tidur bersama Sun. Teman Jing mengira mereka sudah melakukan 'itu' karenanya ia mengatakan pasti pria itu sudah meninggalkan Jing. JIng terlalu polos, ia berfikir 'itu' yang dimaksud temannya adalah tidur bersama, karena ia memang sudah tidur bersama Sun, ia jadi kahwatir. Dan saat kekhawatirannya memuncak, ia ke rumah sakit dan tidak menemukan Sun disana. Sun menghilang begitu saja. Sun hanya meninggalkan cawan bergambar berry hawthorn untuk Jing. Dan JIng tentu saja kesal.
Jing menemani temannya untuk aborsi, awalnya mereka menyamar tapi tentu saja ibu temannya Jing tahu akan hal itu. Meski begitu seorang ibu tetap menyayangi anaknya dan membawakan makanan. Temannya kesakitan setelah aborsi dan Jing jadi takut, bagaimana kalau ia hamil juga.
Temannya bertanya pada Jing apa yang terjadi malam itu dan Jing menceritakan semuanya. Teman Jing cukup kaget karena Jing dan Sun hanya tidur bersama sambil genggaman tanga, tentu saja tidak akan terjadi apa-apa. Teman Jing mengatakan kalau Sun sepertinya adalah pria yang baik. PRia itu pasti benar-benar mencintai Jing.

Jing meminta izin pada ibunya untuk mencari Sun. Tentu saja ibunya menolak karena Jing sudah berjanji kalau ia tidak akan menemui Sun selama masa praktek mengajarnya. TApi Jing mengatakan kalau ia harus. Ibunya meminta Jing menjelaskan kenapa. Dan Jing menjawab kalau mungkin Sun sakit leukimia.
Ibu akhirnya menyerah dan membiarkan Jing mencari Sun. Jing pergi ke desa dan menemui keluarga Fang. Mereka tahu untuk apa Jing datang, tapi Sun sudah lama tidak kembali ke rumah itu. JIng juga pergi ke campt tapi Sun tidak ada disana. Tidak ada yang tahu dimana Sun, mereka hanya tahu kalau Sun sedang sakit.
Jing bahkan mencari Sun di paviliun tempat Sun membuat janji dulu, tapi ia juga tak ada disana.

"If you live, I wont die. But if you die, I'll really be dead."


Dan suatu hari di musim dingin, saat Jing sedang mengajar, ia mendapat kabar dari seseorang, menyuruhnya segera ke rumah sakit. Jing tanpa basa basi segera pergi kesana, ia dijemput oleh seseorang dengan mobil dan segera sampai ke rumah sakit. JIng mengenakan jaket merah yang sudah jadi ia buat.
Ia masuk ke kamar rumah sakit dimana keluarga Sun berkumpul disana. Ayah Sun mendekatinya dan langsung mengenali Jing. Ia mengatakan kalau selama ini puteranya selalu menunggu Jing, ia ingin JIng mengucapkan salam perpisahan pada puteranya.
Dan untuk pertama kali setelah sekian lama, Jing bertemu kembali dengan Sun, yang tubuhnya sudah menghitam karena penyakit leukimia yang ia derita.
Jing tenti saja saja tak bisa menahan air matanya. Ia melihat luka di tangan Sun dan terdiam. Keluarga Sun meminta Jing memanggil namanya, sebelum terlambat, karena Sun mungkin masih bisa mendengarnya.
Jing terus menangis menatap pria yang ia cintai itu, Jing terisak, selama ini, ia tidak pernah memanggil Sun dengan namanya.
Jing menangis dan mengatakan 'ini Jing' berkali-kali dalam tangisnya, karena Sun pernah berjanji akan kembali padanya kalau ia mendengar namanya.

Sun tidak bergerak saat itu, tapi ia mendengar nama Jing dan suara gadis itu yang menangis. Sun meneteskan air mata untuk terakhir kalinya.
Jing terus menangis dan melihat air mata Sun, mata Sun tertuju ke langit-langit, matanya yang lemah, dan Jing menatap ke langit-langit kamar rumah sakit itu, fotonya dan Sun terpajang disana.

CAST

Zhou Dingyu as Jing Zhang Qiu

Dia adalah anak pertama dari keluarganya. Ia ada di tahun terakhirnya di SMA dan sangat diharapkan oleh keluarga, karena ia adalah calon guru. Ayahnya masuk penjara dan ibunya skait-sakitan. Ia berasal dari keluarga miskin karena itu Jing sangat rajin. Ia rela bekerja apa saja untuk menghasilkan uang, bahkan meski itu pekerjaan berat.
Bisa dibilang ia tidak pernah mengeluh akan hidupnya yang berat, ia selalu menjalaninya dengan lapang dada.
Setelah ia bertemu dengan Sun, hidupnya jadi lebih berwarna. Meski saat itu ia tidak diperbolehkan pacaran dan mereka pacaran diam-diam, ia sangat senang ada Sun disampingnya.

Meski Sun cukup kaya untuk membiayainya, Jing tidak mau memakai uang orang lain. Ia selalu berusaha menolak uang pemberian Sun tapi ia tak bisa menolak barang pemberian Sun. Satu-satunya barang yang diberikan Jing pada Sun adalah anyaman ikan mas yang dijaga oleh Sun sampai akhir.
Karena Sun sangat mencintainya, Jing tidak ingin menyerah. Ia tahu kalau akan ada masalah jika ia terus berbohong, tapi ia terlalu mencintai pria itu.

Shawn Dou as Sun Jianxin

Ia berasal dari keluarga militer dimana ia lebih memilih bekerja di bagian geologi. Ia tinggal di rumah yang sama dimana Jing menginap selama pelatihannya, dan sudah menganggap keluarga itu sebagai keluarga keduanya.
Ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Jing di hari pertama Jing tinggal disana. Ia tahu Jing bukan dari keluarga mampu, makanya ia selalu memberika ini dan itu pada JIng. Bahkan setelah mereka berdua bertengkar, ia tidak bisa tidak perhatian pada Jing dan meminta Fang dan Lin melakukannya untuknya.

Ia sangat mencintai Jing dan kita tahu akan hal itu. IA bahkan tidak berani menyentuh gadis itu kalau Jing tidak suka.
Ia selalu datang membantu Jing kalau Jing membutuhkan sesuatu, dan membantu keuangan keluarga dengan memberikan banyak barang yang dibutuhkan Jing.
IA cukup tegas pada Jing mengenai banyak hal, termasuk saat Jing menolak ke rumah sakit. Ia pria yang menepati janjinya, bahwa ia akan menunggu Jing seumur hidupnya.

"I cant wait for you for 13 months. I cant wait for you until you are 25. But I've waited for you my whole life."

HUWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
Nggak nyangka aku nulis panjang banged sampai ke endingnya T______________T
Ini movie beneran keren banged! Banged! Masuk dalam list the best chinese movie all time ini! KEREN!
Akting para pemeran yang tergolong rookie ini benar-benar sangat bagus. Aku suka banged sama Jing dan Sun. Chemistry mereka berdua aduh, plis deh, keren banged.
Apakah mereka pernah bermain di drama/movie lain? Please tell me.

Katanya ini diambil dari kisah nyata. Sebuah kisah cinta yang murni dan menyentuh. Keren banged penulisnya bisa menemukan Jing dan Jing menceritakan mengenai kisah cintanya.
Awalnya meninton ini mengingatkan aku pada The Classic lho. Ternyata feel The Classic-nya ada. Aku udah feeling bakalan sad ending sejak awal, karena pokoknya di awal episode sudah terasa banged kalau ini melodrama.
Aku nggak berhenti tersenyum saat menontonnya. Bisa dibilang dialog-nya cheesy, tapi menyentuh banged. Apalagi cara kencan Sun dan Jing itu, sederhana tapi manis banged. Karena pada masa itu sepertinya kencan di larang. Atau karena Jing belum cukup umur ya.

Tapi Sun itu beneran idaman banged deh. Dia cinta mati pada Jing dan menghargai Jing, memikirkan masa depan Jing dan bahkan menepati janjinya sampai akhir hayatnya.
Ia tidak ingin merusak masa depan Jing, karena itu ia menghilang. Aku yakin keluarga juga ingin mencari Jing tapi dilarang oleh Sun. Seperti yang Sun katakan, kebahagiaan Jing adalah kebahagiaanya, makanya ia setuju tidak bertemu dengan Jing selama 1 atau 2 tahun demi masa depan Jing.
Aku penasaran apakah Jing sudah tahu kalau ia sakit leukimia sejak pertama bertemu Jing ya?
Karena aku sendiri taunya saat Jing melukai tangannya dan darahnya lama beku. Udah feeling nggak enak.

Tapi cinta Sun pada Jing benar-benar sesuatu banged. Ia rela menunggu sampai Jing siap. Aku terharu setiap kali Sun datang membawakan sesuatu untuk membantu ekonomi keluarga JIng. Ia tahu Jing akan menolak kalau ia memberi uang, makanya ia lebih sering memberikan makanan.
Ibu JIng meragukan Sun sejak awal, karena mungkin ingin main-main dengan anaknya, tapi sepertinya ia merasakan ketulusan Jing. Apalagi saat keduanya menangis, saat Sun membalut luka Jing. Aduuuhh, tissu mana tissu.
Ini movie rilis pada tahun 2010 dan sebenarnya nggak banyak musiknya lho. Tapi aku sangat menikmati movienya, tidak ada part boring sama sekali. Kisahnya terasa mengalir dengan cinematography yang indah, apalagi disekitaran pohon hawthorn itu. Mungkin karena kisahnya menyentuh kali ya, melihat dua tokoh utama pacaran diam-diam, sederhana tapi manis.
Jangan berharap ketawa ngakak di movie ini, nggak akan, tapi kalian akan senyam senyum sendiri melihat beberapa humor yang disuguhkan dalam movie ini, secara sederhana tapi ngena.

Yang membuatku seikit kecewa adalah, aku menunggu sepanjang movie untuk melihat adegan yang ada di poster tapi nggak ada HAHAHAHHAHAHA. Kayaknya sih di cut.
DAn aku menunggu saat Jing dan Sun akan pergi bersama melihat bunga hawthorn yang mekar, tapi sampai akhir keduanya tidak pernah kesana bersama T_T
Di akhir movie sih, katanya setelah Sun meninggal, Jing menyebar abunya di bawah pohon hawthorn. Ia kemudian berangkat ke luar negeri untuk belajar. Pohon hawthown kemudian dipindahkan. Jing masih terus mengingat Sun sepanjang hidupnya.

Skor:

Story: 5/5
Character: 4,5/5
Cinematography: 4/5
Opening: 4/5
Ending: 4,5/5
Music: 3/5

-HIGHLY RECOMMENDED!-


Share:

3 comments:

  1. endingnya SAOLOH, buat gue nangis seharian-_-
    si shawn mirip OK taecyeon ya kalo diliat-liat:v

    ReplyDelete
  2. permainan warna & pengambilan gambar pemandangan pedesaan khas gaya Zhang Yimau seperti di filmya Hero, Curse of the Golden Flower

    ReplyDelete
  3. ngga terlalu suka si, endingnya sudah ketebak. ngga ada twist bahkan. bagus tapi ngga highly recommended juga

    ReplyDelete

Translate

Dapatkan Update Via Email

Powered by Blogger.

Actress & Actor Tags

Airi Matsui Anna Ishii aoi miyazaki aom sushar Bae Min Jung baro Chen Duling choi si won Dori Sakurada Eikura Nana Eita Eun Ji Won Fukushi Sota Fuma Kikuchi Go Kyung Pyo Gong Yoo Haruma Miura Hashimoto Ai Hikari Mitsushima Hiroki Narimiya Hirose Suzu Hong Jong Hyun Honoka Miki horii arata Hoya hwang jung eum Hyeri Ikuta Toma Inoue Mao Ishihara Satomi James Reid Jang Se Hyun Jeon Ji Hyun jo seung woo Joo Won Jun Shison Jung Eun Ji jung gyu won Jung Ryu Won Kamiki Ryunosuke Kasumi Arimura kawakami juria Kei Tanaka Kengo Kora Kento Hayashi Kim Go Eun Kim Jong Kook Kim Seul Gi Kim So Hyun Kim Soo Hyun kim tae woo Kim Woo Bin kim yoo bin Kim Yoo Jung Kim Yoo Mi Kim Yura lee bo young Lee Chung Ah Lee Dong Wook lee gi kwang Lee Jong Suk Lee Soo Hyuk Mackenyu Marie Itoyo Masahiro Higashide Masaki Suda Mei Nagano Mikako Tabe mike d angelo Min Do Hee Minami Hamabe Mirai Shida mirai suzuki Mitsuki Takahata Miyu Yoshimoto Nadine Lustre nagasawa masami Nijiro Murakami noemie nakai Osamu Mukai Park Bo Gum Park Eun Bin Park Hae Jin Park Shin Hye Reina Visa rena nounen risako ito Ryo Ryusei Ryo Yoshizawa Ryoma Takeuchi Ryoo Hye Young Ryoo Joon Yeol Sakaguchi Kentaro Sakurako Ohara Sato Kanta Satoshi Tsumabuki Seo In Guk Shim Eun Kyung Shin So Yul Shuhei Nomura Suzuki Ryohei Suzy Takeru Sato Tao Sattaphong Tomoshita Yamashita Tsubasa Honda Tsuchiya Tao Ueno Juri yamada yuki Yamazaki Kento Yoo In Na Yook Sung Jae Yoshine Kyoko Yu Aoi Yudai Chiba Yui Aragaki Yuina Kuroshima Yuki Furukawa Yuko Oshima Yuriko Yoshitaka Zhou Dongyu

Blog Archive

Recent Comments

Random Post